2 Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

  • Whatsapp

Pada zaman kerajaan, di Indonesia terdapat beberapa Kerajaan Hindu maupun Budha, Namun, pada kali ini Berkas Ilmu hanya akan membahas 2 kerajaan saja, yaitu Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara. Jika anda ingin tahu lebih jauh dan lengkap, silahkan kunjungi artikel sejarah: Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia Secara Lengkap

Di bawah ini adalah pembahasan kerajaan Kutai dan Tarumanegara yang diulas secara ringkas namun informatif.

1. Kerajaan Kutai

Zaman sejarah Indonesia dimulai dengan adanya penemuan tertulis di daerah Kutai. Kutai merupakan sebuah wilayah yang terletak di sekitar aliran Sungai Mahakam (Kalimantan Timur). Di tempat ini ditemukan batu bersurat atau prasasti berbentuk yupa yang berjumlah tujuh buah. Yupa ialah tugu peringatan upacara korban. Yupa biasa digunakan untuk menambatkan hewan yang akan dijadikan kurban. Semua yupa tersusun dalam bentuk syair yang menggunakan tulisan Pallawa dengan bahasa Sansekerta.

Foto Prasasti Mulawarman berupa yupa

Prasasti Mulawarman, atau disebut juga Prasasti Kutai, adalah sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai. Terdapat tujuh buah yupa yang memuat prasasti, namun baru 4 yang berhasil dibaca dan diterjemahkan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan dalam bahasa Sanskerta, yang diperkirakan dari bentuk dan jenisnya berasal dari sekitar 400 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub (wikipedia).

Yupa-yupa yang ditemukan di daerah Kutai tidak berangka tahun. Oleh karena itu, para ahli menentukan usia yupa dengan meneliti bentuk-bentuk huruf dan bahasa yang digunakan. Atas dasar penelitian itu, diketahui bahwa pada sekitar tahun 400 Masehi atau awal abad ke-5 telah berdiri sebuah kerajaan, yakni Kutai. Hingga kini Kutai dianggap sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu didirikan oleh Aswawarman. Oleh karena itu, ia disebut sebagai wangsakara (pendiri keluarga kerajaan). Penguasa pertama di Kutai adalah Kundungga. Dilihat dari namanya, Kundungga belum dipengaruhi Hindu. Nama Kudungga adalah nama asli penduduk setempat. Mungkin sekali ia adalah seorang kepala adat yang sangat berpengaruh. Aswawarman dinobatkan sebagai raja dengan cara Hindu. Penobatan raja ini diperkirakan dengan cara vratyastoma, yaitu pengangkatan seseorang menjadi kasta yang tinggi (bangsawan). 

Aswawarman mempunyai tiga orang putera yang laksana api suci. Putera yang paling terkemuka ialah Mulawarman. Pada sebuah yupa diterangkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja mulia dan terkemuka, yang telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana di tanah suci waprakeswara (tanah suci yang ditinggikan untuk menyembah Dewa Syiwa). Tugu ini dibuat para brahmana untuk menghormati kebaikan Raja Mulawarman. Berdasarkan keterangan ini, diduga bahwa Kutai merupakan kerajaan yang cukup kaya dan makmur. 

2. Kerajaan Tarumanegara

Dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 450 Masehi, di Jawa Barat muncul sebuah kerajaan Hindu, yaitu Tarumanegara. Nama Tarumanegara diduga berasal dari kata taruma yang berarti nila. Para ahli belum dapat memastikan keterkaitan nama Tarumanegara dengan nama sebuah sungai, yakni Citarum yang mengalir di Jawa Barat. 

Tarumanegara meninggalkan tujuh buah prasasti. Lima prasasti ditemukan di Bogor, sedangkan sisanya masing-masing berada di Jakarta dan Lebak (Banten). Prasastiprasasti yang terdapat di Bogor adalah sebagai berikut.

  1. Prasasti Ciaruteun, terletak di pinggir Sungai Ciaruteun dan bermuara di dekat Sungai Cisadane. Prasasti ini sebelumnya dikenal dengan nama Prasasti Ciampea.
  2. Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Koleangkak, terletak di daerah perkebunan jambu, berjarak 30 km sebelah barat Bogor.
  3. Prasasti Kebon Kopi, terletak di kampung Muara Hilir, Cibungbulang.
  4. Prasasti Pasir Awi.
  5. Prasasti Muara Cianten di Muara Cianten. 
Gambar Peta wilayah Kerajaan Tarumanegara
Peta wilayah Kerajaan Tarumanegara

Prasasti yang terdapat di daerah Banten, yaitu Prasasti Cidanghiang. Prasasti ini sering juga disebut Prasasti Lebak. Prasasti Cidanghiang ditemukan di pinggir Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Pandeglang. Adapun prasasti yang terdapat di Jakarta adalah Prasasti Tugu. Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terakhir ditemukan. Prasasti ini memiliki berita paling panjang dibanding prasasti-prasasti lain yang berkisah tentang Kerajaan Tarumanegara. 

Dalam Prasasti Tugu dikatakan bahwa Raja Purnawarman telah menggali Sungai Gomati dalam masa pemerintahannya yang ke-22. Panjang sungai sekitar 12 kilometer yang dikerjakan dalam jangka waktu 21 hari. Sungai ini dibuat setelah sebelumnya masyarakat selesai melakukan penggalian Sungai Chandrabhaga. Pada akhir pekerjaan Denggalian, Raja Pumawarman kemudian memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para brahmana.

“Sungai Gomati digali untuk mengantisipasi bahaya banjir di aliran Sungai Chandrabhaga. Upaya Purnawarman ini menyiratkan betapa penuh perhatian raja kepada rakyatnya. Pekerjaan menggali sungai dilakukan secara bergotong royong dan tanpa paksaan. Hal ini memberi arti Purnawarman telah berhasil menciptakan suasana damai dan tenteram di kerajaannya. 

Sungai Candrabhaga diperkirakan berada di Bekasi. Hal ini berkaitan dengan nama Candrabhaga yang diduga berasal dari kata candra dam bhaga. Candra bermakna sasi (bulan) sehingga kata tersebut berubah menjadi bhagasasi. Pada perkembangannya bhagasasi berubah menjadi Bekasi.”

Selain prasasti, berita Kerajaan Tarumanegara juga diperoleh dari Cina. Orang-orang Cina menyebut Kerajaan Tarumanegara dengan sebutan To-lo-mo. Pada masa Dinasti Tang, beberapa kali Kerajaan Tarumanegara mengirimkan utusannya ke negeri Cina. Fa Hien, seorang pendeta Cina pernah singgah di Kerajaan Tarumanegara selama lima bulan pada tahun 414 Masehi. Menurutnya, banyak penduduk Kerajaan Tarumanegara yang telah menganut agama Buddha.

Foto Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Bentuknya adalah syair. Agama yang menentukan corak pikiran sang raja adalah agama Hindu. Buktinya, pada Prasasti Ciaruteun terdapat lukisan dua tapak kaki raja seperti kaki Wisnu. Wisnu ialah dewa pemelihara alam dalam agama Hindu.

Baca juga: Peninggalan Sejarah Hindu dan Buddha di Indonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *