Kehidupan Masyarakat Pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha

  • Whatsapp

Masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara berlangsung sejak awal abad ke-5 hingga pertengahan abad ke-15. Masa tersebut merupakan masa muncul dan tenggelamnya kerajaan Hindu-Buddha. Kehidupan masyarakat pada masa itu tumbuh dan berkembang secara menyeluruh, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Foto Candi Plaosan di Prambanan Klaten
Salah satu candi Buddha kembar utama Plaosan Lor, di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dari dinasti Sailendra abad ke-9 zaman Kerajaan Mataram Kuno.

1. Bidang Ekonomi

Kerajaan-kerajaan yang muncul umumnya dapat dikategorikan sebagai negara agraris atau maritim. Pertanian dan laut menjadi sumber mata pencaharian yang utama. Mata pencaharian penduduk meliputi perburuan, pertanian, perikanan, pertambangan, pelayaran, dan perdagangan. Komoditi dagang yang paling utama pada saat itu ialah rempah-rempah.

Masyarakat telah memanfaatkan perdagangan dengan menggunakan uang. Mata uang yang beredar adalah mata uang Jawa Kuno, seperti ma, su, ku dan mata uang asing (India), seperti krsnala, dhrana, serta pana. Sistem pajak sebagai upeti yang menjadi sumber penghasilan (kas negara) umumnya telah diberlakukan oleh setiap kerajaan. Namun, di bidang pertanahan, tanah sima juga diberlakukan. Tanah sima ialah tanah yang dibebaskan dari pajak kerajaan.

2. Bidang Sosial

Lapisan sosial masyarakat terdiri atas raja, bangsawan (pejabat kerajaan), dan rakyat biasa. Pada umumnya raja dianggap sebagai penjelmaan dewa. Raja-raja disamakan dengan dewa tertinggi yang harus dihormati dan ditaati perintahnya. Siapa yang melanggar perintah, harus siap dikenai hukuman. Para pejabat negara mendapatkan gelar sebagai penunjang kekuasaan. Sang pamgat untuk pejabat keagamaan dan kehakiman, rakai sebagai penguasa daerah, haji untuk raja bawahan, dan sebagainya.

Kepercayaan masyarakat kerajaan bercirikan kosmogonis. Hal ini bermakna bahwa setiap masyarakat yakin akan adanya keserasian di antara dunia manusia yang berada di bumi dengan alam semesta yang mengelilinginya.

3. Bidang Politik

Kebanyakan negara ketika itu berbentuk kerajaan. Pusat kerajaan berperan sebagai sentral atau pusat yang membuat pola kebijakan, sedangkan negara-negara bawahan bertugas melaksanakan kebijakan tersebut.

Sistem diplomasi telah cukup berkembang. Setiap negara berusaha untuk menjalin hubungan dengan negara-negara sahabat. Semua ini ditujukan bagi kesejahteraan hidup masyarakat bersama. Pengaturan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat telah didapatkan pada naskah-naskah hukum, seperti kitab Purwadhigama, Kuramanawa, dan Swarajambhu.

4. Bidang Budaya

Secara kultural, masyarakat dapat digolongkan ke dalam budaya Hindu-Buddha dan budaya asli. Di beberapa tempat, terjadi percampuran dua budaya dengan tidak menghilangkan keasliannya. Namun, di beberapa tempat percampuran budaya telah memunculkan sebuah kebudayaan baru.

Kebiasaan menulis kejadian penting telah berkembang pesat. Mereka menuliskannya ke dalam prasasti. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat, yaitu bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Melayu Kuno. Bahasa itu digunakan sebagai alat pemersatu kerajaan dan alat komunikasi antarbangsa.

Sejalan dengan berkembangnya agama Hindu-Buddha, telah dibangun beberapa candi yang megah dan indah. Selain itu, muncul pula karya-karya sastra Hindu-Buddha, terutama pada masa Kerajaan Kediri dan Majapahit.

Baca juga: 2 Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *