Kerajaan Demak : Sejarah Raja yang Memerintah dan Keruntuhan Demak

  • Whatsapp
Pendiri Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Menurut tradisi Jawa, nama asli Raden Patah adalah Jin Bun. Ia adalah anak Raja Brawijaya dari Majapahit dengan seorang wanita Cina. Ketika sang ibu mengandung dirinya, Raja Brawijaya menikahkan ibunya dengan penguasa Palembang, bernama Arya Damar. Saat dewasa, Raden Patah dan adiknya, Raden Kusen, pergi ke Majapahit untuk mengabdi pada kerajaan sang ayah. Dalam perjalanan ke istana, mereka berkunjung ke Ngampel untuk belajar agama Islam di sini, Raden Patah menjadi dekat dengan Sunan Ampel.
gambar-sejarah-kerajaan-demak

Raja-Raja yang Memerintah Demak

a. Raden Patah (1500-1518)
Pada awal tahun 1500 Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Pada mulanya, kedatangan Raden Patah dan adiknya disambut baik di istana Majapahit. Raden Patah ditunjuk sebagai adipati di Bintara, sedangkan Raden Kusen diangkat menjadi adipati di Terung Ketika Majapahit melemah akibat konflik internal, Raden Patah, dengan dukungan adiknya dan Sunan Ampel, melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Hindu ini. Berkat dukungan kota-kota pelabuhan Islam, seperti Tuban dan Gresik, Raden Patah mendirikan kerajaan Islam dengan pusat di Demak.
Pada permulaan abad ke-16, Raden Patah menyerang Majapahit dan berhasil merebut ibukota. Ia memindahkan semua alat upacara kerajaan dan benda pusaka Majapahit ke Demak. Tindakan ini diambil sebagai lambang bahwa kerajaan Majapahit tetap bertahan dalam bentuk baru di Demak. Oleh karena itu, Demak dapat mengaku sebagai penerus Kerajaan Majapahit yang sah. Kerajaan Demak menjadi kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Dalam waktu singkat, Demak berkembang menjadi kerajaan besar.
Kerajaan Demak berhasil menguasai wilayah-wilayah seperti Jepara, Semarang, Tegal, Palembang, Jambi, pulau-pulau antara Sumatera dan Kalimantan serta beberapa daerah di Kalimantan. Kerajaan Demak juga berhasil menguasai beberapa pelabuhan-pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sidayu, Jaratan, dan Gresik.
Demak berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Pada waktu itu Demak menjadi pusat penyebar agama islam yang disebut dengan sebutan wali. Sebagai tempat beribadah dan pusat kegiatan agama, para wali banyak mendirikan masjid di Demak.
Salah seorang wali yang bertempat tinggal tidak jauh dari Pelabuhan Jaratan dan Gresik ialah Sunan Giri. Murid-murid Sunan Giri banyak yang berasal dari Ternate dan Hitu (Ambon). Dengan demikian, agama Islam dari Demak disebarkan ke wilayah Maluku. Dalam bidang ekonomi, Demak berperan penting pula. Sebab Demak mempunyai daerah-daerah pertanian yang cukup luas, dan sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Kecuali itu, perdagangannya pun maju. Demak memiliki kapal-kapal dagang cukup banyak. Komoditi yang diekspor ialah beras, madu, dan lilin. Barang-barang tersebut diekspor ke Malaka melalui pelabuhan Jepara. Kecuali diekspor ke Malaka, ketiga macam komoditi itu juga dijual ke Samudra Pasai dan Maluku. Pada tahun 1511 Malaka direbut oleh bangsa Portugis. Keadaan tersebut menyebabkan hubungan dagang antara Demak dengan Malaka putus. Tentu saja Demak merasa dirugikan. Oleh karena itu, pada tahun 1513 armada Demak menyerang Portugis di Malaka yang dipimpin oleh Dipati Unus (Pati Unus), putra mahkota Kerajaan Demak. Serangan itu tidak berhasil.
2. Pati Unus (1518 -I521)
Raden Patah memiliki seorang putra yang bernama Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang terkenal gagah berani. Setelah berhasil merebut Jepara, Pati Unus diangkat menjadi adipati di kota itu. Sejumlah daerah pesisir di Jawa Tengah dan Jawa Timur kemudian mengakui kekuasaan Demak. Seperti Gajah Mada, Unus juga bercita-cita menjadikan Demak sebagai kerajaan terbesar di Nusantara.
Pati Unus membangun angkatan lautnya selama tujuh tahun dengan niat untuk menyerang Malaka. Usaha penyerangan ini dilakukan karena Pati Unus menganggap bahwa adanya kekuasaan Portugis telah merugikan perdagangan Demak secara umum.
Demak juga melancarkan serangan atas Malaka karena Portugis dianggap mengancam kedudukan Demak. Portugis diketahui berusaha menjalin persekutuan dengan sejumlah kerajaan Hindu di Jawa. Armada Demak mengalami kekalahan. Raden Patah wafat pada tahun 1518. Ia digantikan oleh putra mahkota, Pati Unus yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. Pati Unus hanya tiga tahun memegang pemerintahan. Tiga tahun setelah naik takhta, Pati Unus wafat yaitu pada tahun 1521.
3. Sultan Trenggono (1521 -1546)
Pengganti Pati Unus adalah saudaranya, Sultan Trenggono. Sultan Trenggono merupakan putra ketiga Raden Patah. Ia naik tahta pada tahun 1521 menggantikan kakandanya. Ia memiliki seorang penasihat bernama Syarif Hidayatullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Ada kemungkinan Trenggono mendapat gelar sultan berkat bantuan Sunan Gunung Jati. Pada masa itu, gelar sultan hanya diberikan oleh Mekkah. Karena Sunan Gunung Jati memiliki banyak kenalan di kalangan petinggi Mekkah, Trenggono dapat menggunakan gelar sultan. Trenggono menikahkan Sunan Gunung Jati dengan kakaknya, dan mendukung upayanya mengembangkan Islam di Jawa.
Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono Demak melanjutkan usaha memperluas wilayahnya ke Jawa Barat. Untuk keperluan itu, dikirimkanlah armada Demak ke Jawa Barat di bawah pimpinan Faletehan. Siapakah Faletehan itu? Ia seorang ulama dari Pasai yang datang ke Demak untuk mengabdi kepada Sultan. Kedatangannya diterima dengan baik oleh Sultan Trenggono.
Pada tahun 1522 armada Demak di bawah pimpinan Faletehan menuju ke Banten, Sundakelapa, dan Cirebon. Ketiga daerah itu termasuk wilayah Kerajaan Pejajaran. Banten dapat direbutnya, kemudian menyusul Sundakelapa. Bersamaan dengan direbutnya Sundakelapa oleh armada Demak, gubernur Portugis di Malaka mengirimkan utusan ke Pajajaran. Gubernur tersebut bernama d’Albuquerque. Sedangkan utusannya bernama Henrique Leme, Apakah maksudnya? Akan minta izin kepada raja Pejajaran untuk mendirikan benteng dan kantor dagang di Sundakelapa. Permintaan izin itu dikabulkan. Pada tahun 1527 datanglah orang-orang Portugis di Sundakelapa untuk melaksanakan rencananya. Padahal pada saat itu Sundakelapa telah dikuasai oleh armada Demak di bawah pimpinan Faletehan. Pertempuran antara orang-orang Portugis dengan armada Demak terjadi. Ternyata armada Demak memenangkan pertempuran tersebut dan  Portugis dapat dihancurkan. Kemudian Faletehan mengganti nama Sundakelapa dengan Jayakarta. Kota Jayakarta itulah yang sekarang bernama Jakarta, ibu kota Republik Indonesia.
Setelah Sundakelapa, kemudian Cirebon juga dikuasai oleh armada Demak. Karena usaha perluasan wilayah ke Jawa Barat berhasil, maka Sultan Trenggono ingin meluaskan wilayah lebih lanjut. Kali ini sasarannya Pasuruan, Jawa Timur. Dalam usaha menaklukkan Jawa Timur, Sultan Trenggono gugur. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1546. Sepeninggal Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan antara Sunan Prawata dengan Pangeran Sekar.
4. Sunan Prawoto
Setelah Sultan Trenggono Wafat terjadilah perebutan kekuasaan di Demak. Perebutan kekuasaan itu terjadi antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dengan Sunan Prawoto (putra Sultan Trenggono). Sunan Prawata ialah putra sulung Sultan Trenggono. Sedangkan Pangeran Sekar ialah kakak Sultan Trenggono. Pangeran Sekar Seda ing Lepen dapat dibunuh oleh utusan Sunan Prawoto dan Sunan Prawata naik takhta. Putra Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang bernama Arya Penangsang menuntut balas atas kematian ayahnya dengan membunuh Sunan Prawoto. Kemudian tampil salah seorang menantu Sultan Trenggono, ialah Pangeran Hadiri (suami Ratu Kalinyamat, adik dari Sunan Prawoto). Ia merasa berhak menduduki takhta Kerajaan Demak, tetapi ia juga dibunuh oleh Arya Penangsang. Pangeran Hadiri dianggap sebagai penghalang Arya Penangsang untuk menjadi Sultan di Demak. Selanjutnya Arya Penangsang dibunuh oleh Ki Jaka Tingkir yang dibantu oleh Kiai Gede Pamanahan dan putranya Sutawijaya serta Ki Penjawi. Jaka Tingkir naik tahta, setelah menjadi raja ia bergelar Sultan Hadiwijaya, serta memindahkan pusat pemerintahannya dari Demak ke Pajang.

Kehidupan Ekonomi Masyarakat Kerajaan Demak

Bandar-bandar kerajaan Demak yang posisinya sangat strategis memiliki posisi yang sangat penting. Bandar-bandar itu terletak di tengah-tengah perhubungan pelayaran dan perdagangan antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Hal ini menyebabkan perekonomian Demak berkembang sangat pesat dalam dunia maritim karena didukung oleh penghasilan dalam bidang agraris yang sangat besar.

Kehidupan Sosial Masyarakat Kerajaan Demak

Kehidupan sosial masyarakat Demak tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial masa sebelumnya. Hanya saja kehidupan sosial masyarakat demak diatur oleh aturan-aturan atau hukum-hukum yang berlaku dalam ajaran Islam. Namun demikian tidaklah meninggalkan adat serta budaya lama, sehingga muncul sistem kehidupan masyarakat yang telah mendapat pengaruh Islam.

Kehidupan Budaya Masyarakat Kerajaan Demak

Ketika Demak berkuasa di Jawa, Ajaran Islam berkembang pesat. Perkembangan itu didukung oleh para Wali dan Sunan. Diantara para wali atau sunan yang  aktif di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ia banyak memberikan saran-saran kepada raja, sehingga Demak merupakan semacam negara Teokrasi, yaitu negara atas dasar Agama. Salah satu bukti peninggalan Kerajaan Demak adalah Masjid Demak. Masjid Demak yang terkenal dengan salah satu tiang utamanya, terbuat dari pecahan-pecahan kayu dan disebut Soko  Tatal. Pembangunan Masjid Demak dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Di serambi masjid demak itu Sunan Kalijaga meletakkan dasar-dasar perayaan sekaten. Perayaan Sekaten itu sampai sekarang masih dilaksanakan antara lain di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.

Runtuhnya Kerajaan Demak

Setelah berhasil mengamankan kedudukan di Jawa Barat, Demak berusaha memperluas kekuasaan ke wilayah pedalaman dan ujung timur Pulau Jawa. Meski berhasil menguasai pedalaman Jawa Tengah dan bagian selatan Jawa Timur, Demak gagal menaklukkan Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan yang masih memeluk agama Hindu. Bahkan, Trenggono sendiri tewas pada tahun 1546 saat berusaha menaklukkan Pasuruan. Kematian Trenggono menimbulkan gejolak di istana Demak. Takhta Demak diperebutkan oleh adiknya yang bernama Pangeran Sekar Sedo in Lepen dan anak sang sultan, Pangeran Prawata. Kendati berhasil membunuh Sekar, Prawata sendiri lalu dibunuh oleh anak Sekar, bernama Arya Panangsang. Takhta Kerajaan Demak akhirnya jatuh ke tangan adipati Pajang, Hadiwijaya. Hadiwijaya adalah menantu Sultan Trenggono. Ia memindahkan keraton Demak ke Pajang. Dengan demikian, riwayat Kerajaan Demak pun berakhir.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *