Peninggalan-peninggalan Sejarah Bercorak Islam

  • Whatsapp

Berkembangnya agama Islam di Indonesia telah menambah khasanah budaya yang bercorak Islam. Peninggalan-peninggalan yang sampai saat ini diabadikan sebagai hasil budaya Islam, yaitu mesjid, keraton, nisan, kaligrafi, dan karya sastra.

1. Mesjid

Mesjid yang bermakna tempat sujud ialah tempat orang melakukan salat menurut peraturan Islam. Mesjid juga berperan sebagai tempat menggembleng jiwa dan pribadi-pribadi Islam yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Di mesjid umat Islam dibina dan di mesjid pula mereka senantiasa mengingat Allah.

Peninggalan mesjid di Indonesia tersebar di berbagai daerah, terutama di daerah-daerah bekas kerajaan Islam. Bangunan yang masih tertinggal kebanyakan terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah lapuk. Jika mulai terlihat lapuk, beberapa mesjid segera mendapatkan perbaikan. Kendati beberapa bagian bangunan mengalami perubahan, hal ini tidak meninggalkan keunikan dan nilai sejarahnya.

Beberapa hal yang menarik dan menjadi corak khas bangunan mesjid-mesjid kuno di Indonesia adalah sebagai berikut.

  1. Atap mesjid kebanyakan beratap tumpang (atap yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil, dan yang paling atas berbentuk limas).
  2. Di kiri atau kanan mesjid terdapat menara sebagai tempat menyerukan panggilan salat.
  3. Letak mesjid tepat di tengah-tengah kota atau dekat dengan istana.
  4. Di sekitar mesjid (kecuali bagian barat) biasanya terdapat tanah lapang (alun-alun).
Foto Menara Mesjid Kudus
Menara Mesjid Kudus

Di Indonesia hanya ada dua mesjid yang memiliki menara peninggalan kerajaan Islam, yaitu menara Mesjid Kudus dan menara Mesjid Banten. Kedua menara tersebut masing-masing memiliki keunikan. Keunikan menara Mesjid Kudus, yaitu bentuknya menyerupai candi yang diberi atap tumpang, sedangkan Menara Mesjid Banten menyerupai mercusuar Eropa.

2. Keraton

Keraton adalah tempat dilakukannya kegiatan-kegiatan penting yang menyangkut urusan kerajaan. Di keraton, raja beserta keluarganya tinggal. Keraton dibangun sebagai lambang pusat kekuasaan pemerintahan. Pada umumnya keraton-keraton dibangun dengan mengarah ke utara atau agak mengarah ke utara.

Keraton Kasepuhan dan Kanoman (Cirebon), Keraton Banten di Surosowan, Keraton Demak, Keraton Yogyakarta, dan Keraton Surakarta adalah beberapa di antaranya. Keraton Samudera Pasai menghadap ke timur laut dan mengarah ke Selat Malaka. Demikian pula Keraton Kerajaan Aceh di masa Sultan Iskandar Muda yang menghadap ke barat laut.

Foto Lingkungan keraton Yogyakarta
Gedhong Kaca, Museum Hamengku Buwono IX Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Bangunan utama keraton biasanya dikelilingi pagar tembok, parit, atau sungai kecil buatan. Untuk memasuki bangunan utama harus melalui suatu tempat berupa pintu gerbang keraton. Contoh keraton dengan kondisi seperti itu ialah keraton di Samudera Pasai, Banten, Cirebon, dan Mataram. Di depan keraton terdapat lapangan luas yang disebut alun-alun. Biasanya di tengah alun-alun ditanam pohon beringin sebagai lambang pengayoman raja terhadap rakyatnya. Alun-alun tersebut berfungsi sebagai tempat kegiatan, yaitu:

  1. pertemuan raja dengan rakyat dalam upacara-upacara tertentu,
  2. latihan perang bagi para prajurit kerajaan, dan
  3. hiburan, pesta, atau perayaan-perayaan tertentu.

3. Nisan

Nisan adalah tonggak pendek yang ditanam di atas gundukan tanah sebagai tanda kubur. Sebelum upacara jenazah pada hari ke-100, nisan biasanya masih dibuat dari tonggak kayu. Sesudah upacara selesai, kuburan diperkuat dengan bangunan dari batu yang disebut kijing (jirat). Di ujung kijing utara dan selatan dipasang nisan dari batu. Kadangkala di atas kijing didirikan sebuah rumah yang disebut cungkub.

Pada umumnya makam raja-raja atau pembesar kerajaan dibangun di atas lereng bukit. Hal ini berbeda dengan makam rakyat biasa yang berada di atas tanah datar. Kijing yang dianggap tersuci terletak paling atas pada lereng atau paling belakang di tanah datar. Cara semacam ini merupakan pengaruh budaya Indonesia sebelum masuknya agama Islam. Peninggalan makam-makam tertua di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok.

  1. Makam-makam asing yang kijing dan nisannya berasal dari luar negeri. Makam-makam ini biasa disebut sebagai barang yang diperjualbelikan, seperti makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
  2. Makam asli Indonesia, yaitu makam yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri. Makam-makam seperti ini jumlahnya sangat banyak, seperti di Troloyo (Sulsel).
Foto Makam Maulana Malik Ibrahim
Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapurosukolilo, Gresik, Jawa Timur

4. Kaligrafi

Kaligrafi ialah seni melukis indah. Seni kaligrafi mulai berkembang pada abad ke-16, berupa tulisan indah dalam bahasa Arab yang dipahatkan pada sebuah batu. Seni kaligrafi biasanya memiliki sebuah gambar dengan pola beragam, misalnya daun-daunan, bunga-bungaan, perbukitan atau karang, pemandangan, atau bahkan sekadar garis-garis geometri.

Seni kaligrafi yang tumbuh subur itu biasanya dituangkan pada mesjid atau makam. Letak bagian mesjid yang mendapat ukir-ukiran umumnya hanya pada bagian mimbar. Hal ini dapat dilihat pada hiasan Mesjid Mantingan di kota Jepara. Sebaliknya pada kijing, bagian makam yang dihias tidak semata-mata kijingnya, melainkan juga nisan, cungkub, dan tiang-tiang cungkubnya.

Gambar Relief Masjid Mantingan
Relief Masjid Mantingan

5. Karya Sastra dan Ulama

Peninggalan karya sastra bercorak Islam di Indonesia dapat dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu hikayat, babad, syair, dan suluk.

a. Hikayat

Hikayat ialah karya sastra berupa cerita atau dongeng yang dibuat sebagai wahana pelipur lara atau pembangkit semangat juang. Contoh, Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Hang Tuah.

“Hikayat Hang Tuah menceritakan kapahlawanan Laksamana Kerajaan Malaka bernama Hang Tuah yang berani pandai, bijaksana, dan abdi raja yang setia”.

b. Babad

Babad ialah cerita berlatar belakang sejarah yang biasanya lebih berupa semata cerita daripada uraian sejarah yang disertai bukti-bukti dan fakta. Contoh, Babad Tanah Jawi dan Babad Giyanti.

“Babad Tanah Jawi menguraikan sejarah Pulau Jawa mulai dari Nabi Adam sampai tahun 1722 Masehi”.

c. Syair

Syair ialah puisi lama yang tiap-tiap baitnya terdiri dari empat baris yang berakhir dengan bunyi yang sama. Contoh, Syair Abdul Muluk dan Gurindam Dua Belas.

“Gurindam Dua Belas memberikan petuah baik kepada para pejabat negara, pegawai, maupun rakyat biasa agar menjadi orang terhormat, disegani, dan disenangi sesama manusia.”

d. Suluk

Suluk ialah kitab-kitab yang membentangkan soal-soal tasawuf. Kitab suluk merupakan karya sastra tertua peninggalan kerajaan Islam di Nusantara. Contoh, Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, dan Suluk Malang Sumirang.

“Suluk Sukarsa menceritakan Ki Sukarsa yang mencari ilmu sejati untuk mendapat purnaan.”

Pada sekitar abad ke-16 di Nusantara banyak sekali para pemikir dan ulama yang berjasa menyebarkan, membina, dan mengembangkan syariat dan budaya Islam. Peran mereka tidak kalah panting dengan Wali Sanga. Sumbangan mereka yang berharga bagi pengembangan agama Islam di tanah air berupa karya-karya tulis dan pembangunan pondok-pondok pesantren. Beberapa ulama Islam tersebut adalah Hamzah Fansuri, Nuruddin ar Raniri, dan Bukhari al Jauhari.

a. Hamzah Fansuri

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), di Aceh muncul semang pemikir Islam dari aliran tasawuf Qodariyah yang bernama Hamzah Fansuri. la mendapat perlindungan dari sultan dalam menyebarkan ajaran tasawufnya. Dukungan ini memberi dorongan kepada Hamzah Fansuri untuk melahirkan karya-karya tulis bernuansa Islam. Karya-karya yang ditulis Hamzah Fansuri, yaitu Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai.

1) Syair Perahu

Syair ini menerangkan bahwa manusia diibaratkan sebagai perahu yang mengarungi lautan zat Tuhan. Untuk menghadapi segala marabahaya yang diarunginya, ia harus memiliki bekal berupa tauhid dan ma’rifat.

2) Syair Si Burung Pingai

Syair ini menerangkan bahwa jiwa manusia disamakan dengan seekor burung yang merupakan zat Tuhan.

b. Nuruddin ar Raniri

Tokoh ini hidup sezaman dengan Sultan Iskandar Muda. Menurut para ahli, ia berasal dari daerah Ranir atau Rander di Gujarat, India. Saat itu Nuruddin ar Raniri belum banyak berperan dalam melahirkan karya-karya Islam. Baru pada masa Sultan Iskandar Thani (1636-1641), ia tampil sebagai tokoh Aceh yang dikagumi.

Atas perintah Sultan, pada tahun 1638 ia menyusun sebuah kitab yang diberi judul Bustanus Salatin (Taman Raja-raja). Kitab yang terdiri dari tujuh bagian ini menerangkan tentang penciptaan bumi dan langit, riwayat para nabi, dan sejarah bangsa Mesir, Arab, Delhi, Malaka, Pahang, serta Aceh. Kitab ini juga menjelaskan tentang raja-raja dan pegawai-pegawai yang memiliki sifat adil, cakap, dan saleh.

c. Bukhari al Jauhari

Bukhari al-Jauhari muncul pada masa Sultan Alaudin Riayat Syah (1538-1579) memerintah di Aceh. Ia berasal dari Johor, Malaka. Pada tahun 1603 ia berhasil menyelesaikan karya tulis berjudul Tajus Salatin (Mahkota Raja-raja). Kitab yang terdiri dari 24 bab ini berisikan ajaran dan petunjuk bagaimana cara seseorang mengenal dirinya sendiri, bagaimana orang mengenal Tuhan sebagai pencipta alam semesta, dan bagaimana orang mengenal dunia serta kehidupannya.

Baca juga artikel referensi lainnya:

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *