Peranan Para Ulama dalam Penyebaran Islam di Nusantara

  • Whatsapp

Jalur Pengenalan Agama Islam

Penyebaran agama Islam di Indonesia tidak lepas dari peran para pedagang. Namun, para pedagang tersebut juga adalah ulama (orang yang memahami ajaran Islam). Oleh karena itu, selain menjalankan profesi berdagang, mereka juga menyebarkan Islam. Mereka amat giat memperkenalkan nilai-nilai Islam ke seluruh penduduk. Nilai-nilai Islam tersebut diperkenalkan melalui berbagai jalur, seperti perkawinan, ajaran tasawuf, pendidikan, dan kesenian. 

a. Perdagangan

Para pedagang Gujarat, Arab, dan Persia yang datang ke Indonesia berupaya mencari simpati dari masyarakat setempat. Mereka mendekati para raja dan bangsawan yang memegang peranan dalam dunia perdagangan. Mereka juga bergaul akrab dengan para penduduk yang didatanginya. Melalui upaya ini, komunikasi antara para pedagang dan penduduk berlangsung dengan lancar. Selain itu, transaksi jual beli menjadi sesuatu yang saling menguntungkan.

Ketika hendak kembali, para pedagang asing itu menunggu perubahan arah angin sambil duduk dengan berbagi pengalaman dan tukar menukar pendapat. Dari sini ajaran Islam kemudian tersampaikan. Banyak penduduk yang mencoba memahaminya hingga akhirnya memeluk agama Islam.

“Perkembangan agama Islam di Nusantara berlangsung amat cepat. Hal ini dikarenakan setiap orang yang masuk Islam berusaha menyampaikannya kepada orang lain. Di dalam ajaran Islam memang ditegaskan bahwa setiap muslim harus menyampaikan kebenaran meskipun hanya satu ayat.”

b. Perkawinan

Para pedagang Islam kebanyakan melakukan perkawinan dengan anak-anak bangsawan pribumi. Dari perkawinan itu terbentuklah ikatan-ikatan kekerabatan yang besar di antara kedua belah pihak. Agama Islam kemudian berkembang dalam lingkungan tersebut. 

Di pihak lain, setelah para raja dan bangsawan memeluk agama Islam, dengan sendirinya masyarakat akan mengikuti. Masyarakat menganggap bahwa apa yang dilakukan pemimpin harus pula dikerjakan oleh rakyatnya. Mengikuti dan meneladani pemimpin berarti pula berusaha mencari keselamatan di dunia dan akhirat.

c. Ajaran Tasawuf

Sebelum agama Islam masuk, sebagian masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar ajaran kebatinan. Kedatangan golongan sufi (para penganut tarekat Islam) tentu saja mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat. Alasannya, mereka tenarik dengan kesederhanaan hidup dan kesaktian para sufi tersebut. Mereka belajar tasawuf dan sekaligus memasuki agama Islam. 

d. Pendidikan

Kedatangan para mubaligh ke Indonesia khusus untuk menyebarkan agama Islam. Kedatangan mereka diperkirakan ikut dalam rombongan para pedagang. Para mubaligh menyelenggarakan pesantren-pesantren untuk membentuk kader yang kelak menjadi ulama atau guru agama. Seusai menempuh pendidikan, para kader itu menyebarkan agama Islam sampai ke pelosok-pelosok melalui kegiatan dakwah dan pengajian. Dengan demikian, semakin banyaklah penganut agama Islam. 

e. Kesenian

Kesenian merupakan kebutuhan rohani yang sangat disukai masyarakat. Beberapa tokoh Islam menyebarkan ajaran Islam melalui seni yang di dalamnya terkandung unsur-unsur Islam. Cabang seni yang berpengaruh dalam proses Islamisasi, yaitu arsitektur, seni pahat, seni ukir, seni tari, dan seni pertunjukan wayang.

Sunan Kalijaga adalah salah satu figur wali yang sangat menyukai seni. Bahkan ia menggunakan seni sebagai sarana dakwah. Ia gigih memasukkan unsur Islam ke dalam pertunjukan wayang yang dimainkannya. Dari sinilah masyarakat kemudian tertarik untuk mempelajari Islam.

Foto Kesenian wayang kulit
Pentas Kesenian wayang kulit

Peranan Wali Sanga di Tanah Jawa

Penyebaran Islam di tanah Jawa dilakukan oleh para wali yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga. Istilah wali dilekatkan kepada kepribadian dan perjuangan dakwah seseorang yang membuatnya dikasihi Allah. Selain itu, sebutan wali juga ditujukan kepada orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Selain berperan di bidang keagamaan, para wali juga memegang peranan penting di dalam pemerintahan. Bahkan kerapkali seorang wali berperan sebagai pemberi legitimasi yang dapat memberikan jawaban sah atau tidaknya seseorang naik takhta.

Para wali kebanyakan bertugas sebagai penasihat atau pembantu raja, terutama pada saat kejayaan Kerajaan Demak. Hal inilah yang menyebabkan para wali mendapatkan gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi).

Tokoh-tokoh yang termasuk Wali Sanga, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim), Sunan Drajat (Syarifuddin), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Kudus (Jaffar Sodiq), Sunan Muria (Raden Prawoto), Sunan Kalijaga (Raden Said), dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayat).

Foto Makam Sunan Giri
Makam Sunan Giri

Sejarah mengenai para wali sebagian besar masih diliputi kegelapan. Hanya beberapa nama di antara wali-wali yang diketahui sejarahnya. Salah satunya yang paling lengkap adalah Sunan Gunung Jati yang terlahir sebagai Syarif Hidayat pada tahun 1448. Sesudah selesai belajar dan mengunjungi banyak negara, ia pulang ke Cirebon dan menetap di di bukit dekat Muara jati. Selama hidupnya, ia telah mengukuhkan kekuatan agama Islam di Jawa bagian barat. Syarif Hidayat wafat pada tahun 1568 dan dimakamkan di desa Astana, Gunung Sembung. 

Salah seorang wali yang tidak termasuk Wali Sanga adalah Syekh Siti Jenar. Ia dianggap menyebarkan ajaran sesat di masyarakat. Ajaran tersebut adalah Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan).
Menurut cerita, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum mati oleh para wali. Nasib Syekh Siti Jenar tidak berbeda dengan Al Hallaj, seorang ulama di Irak yang dihukum mati di abad pertengahan karena menyebarkan ajaran yang intinya hamba dan Tuhan dapat bersatu.

Baca juga: Penyebaran Islam di Indonesia Melalui 5 Cara Ini!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *