Pertumbuhan Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara

  • Whatsapp

Pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di Indonesia semakin pesat setelah munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Hal ini dikarenakan sifat masyarakat di Nusantara yang menganggap seorang pemimpin adalah teladan bagi rakyatnya. Oleh karena itu, ketika pembesar-pembesar kerajaan memeluk agama Islam, anggota masyarakat yang lain segera mengikutinya.

1. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Aceh Utara dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini merupakan gabungan dari dua buah kerajaan, yaitu Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai. Penggabungan dua kerajaan itu dilakukan oleh Marah Silu. Setelah berhasil menggabungkan keduanya ia berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh.

Gambar Peta daerah kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai
Peta daerah kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai pernah dikunjungi Marco Polo, seorang saudagar dari Venesia (Italia). Pada tahun 1292 ia mendatangi daerah Perlak dan tempat-tempat lain di bagian utara Aceh. Menurutnya, masyarakat Perlak telah menganut ajaran agama Islam. Ia juga mengatakan bahwa banyak para pedagang India yang giat menyebarkan agama Islam di wilayah Perlak.

Kerajaan Samudera Pasai telah menjalin hubungan yang baik dengan para pedagang dari Gujarat. Hal ini. dibuktikan dengan adanya relief nisan Sultan Malik al-Saleh (berangka tahun 1297 M) yang memiliki kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di Gujarat.

Pada tahun 1297 Sultan Malik al-Saleh diganti puteranya yang bernama Sultan Muhammad. Ia bergelar Malik al-Tahir. Sultan Muhammad memerintah Samudera Pasai sampai tahun 1326. Penggantinya ialah Sultan Ahmad yang juga memakai gelar Sultan Malik al-Tahir.

Pengganti Sultan Ahmad ialah Sultan Zainal Abidin yang masih tetap bergelar Malik al-Tahir. Pada tahun 1345 seorang pengelana dari Marokko, lbnu Battuta mengunjungi Samudera Pasai. Ibnu Battuta mengatakan bahwa Samudera Pasai merupakan sebuah kerajaan dagang yang maju. Di tempat ini ia bertemu para pedagang dari India, Cina, dan Jawa. Banyak kapal yang singgah di pelabuhan karena Samudera Pasai merupakan tempat pengumpulan rempah-rempah, penjualan emas, dan barang-barang lain.

Keberadaan Samudera Pasai di tepi Selat Malaka telah membuat kerajaan tersebut memperoleh kemajuan yang pesat. Hal ini disebabkan Samudera Pasai menjadi pintu gerbang lalu lintas perdagangan internasional antara India dan Cina.

Akhir Kerajaan Samudera Pasai tidak banyak diketahui. Kurangnya sumber sejarah tentang hal itu menjadi penyebabnya. Hanya diketahui bahwa menjelang akhir abad ke-14 Samudera Pasai diliputi suasana kekacauan dan perebutan kekuasaan. Namun, sampai pertengahan abad ke-15 Samudera Pasai masih mengirimkan utusan-utusannya ke negeri Cina.

2. Kerajaan Demak (1500-1550)

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada sekitar tahun 1500 setelah memutuskan hubungan dengan Majapahit. Lahirnya Kerajaan Demak mendapat dukungan dari daerah-daerah di Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, Jepara dan tempat-tempat lain di pantai utara Pulau Jawa.

Peranan Kerajaan Demak semakin besar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511. Banyak pedagang yang memutuskan tidak berdagang lagi ke Malaka setelah kejatuhannya. Kebanyakan mereka pergi ke Demak atau Banten sebagai penggantinya.

gAMBAR Peta daerah kekuasaan Kerajaan Demak
Peta daerah kekuasaan Kerajaan Demak

Perluasan wilayah kekuasaan Portugis memang telah menimbulkan banyak kekhawatiran, tidak terkecuali Demak. Sebagai kerajaan Islam, Demak khawatir Portugis akan meluaskan kekuasaannya ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, sebelum Portugis menyerang daerah-daerah di tanah Jawa, Demak berencana melakukan serangan terlebih dahulu.

Pada tahun 1513 armada Demak dipimpin putra Raden Patah, yaitu Pati Unus melancarkan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Namun, upaya ini menemui kegagalan sebab jarak serangan terhadap Portugis terlalu jauh. Selain itu, persenjataan yang dimiliki Demak amat kurang. Penyerangan memang mengalami kegagalan, tetapi ini tidak membuat penghargaan terhadap Pati Unus dibatalkan. Pati Unus tetap diberi gelar sebagai Pangeran Sabrang Lor, yang bermakna pangeran yang pernah menyeberangi lautan di sebelah utara Kerajaan Demak.

Foto Meriam peninggalan Portugis
Meriam peninggalan Portugis

Pada tahun 1518 Pati Unus menduduki takhta Kerajaan Demak sepeninggal Raden Patah. Namun, Pati Unus menjadi Sultan Kerajaan Demak ke-2 tidak lama (1518-1521). Ia hanya tiga tahun memerintah. Setelah itu, ia digantikan oleh Trenggana (1521-1546). Sebagai sultan ke-3, Trenggana berusaha memperkokoh singgasana Demak dan menegakkan tiang-tiang ajaran agama Islam.

Dengan masih bercokolnya Portugis di Malaka, Demak merasakan ancaman dan bahaya yang membayangi. Akan tetapi, Trenggana tidak mengirimkan pasukan ke Malaka untuk mengusir Portugis. Ia lebih memilih untuk membendung Portugis dalam menguasai Pulau Jawa daripada menyerang kekuatannya.

Kedatangan seorang ulama Pasai, Nurullah yang melarikan diri dari serangan Portugis telah membuat gembira Sultan Trenggana. Hal ini disebabkan ulama Pasai tersebut ternyata memiliki kecakapan yang dapat digunakan oleh Trenggana dalam mewujudkan cita-citanya. Berkat kerja sama keduanya, Portugis gagal merebut pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat, seperti Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa. Bahkan gempuran-gempuran hebat pasukan Demak telah memaksa Portugis meninggalkan pantai Jawa Barat dengan tangan hampa.

Seusai mengusir Portugis, Trenggana berhasil menaklukkan sisa-sisa kekuatan Mataram kuno (Jawa Tengah) dan Singhasari (Jawa Timur). Namun, wilayah Pasuruan dan Panarukan luput dari upaya penaklukan Demak. Demikian pula Blambangan yang tetap menjadi bagian Kerajaan Bali. Sultan Trenggana gugur setelah berusaha menaklukkan Pasuruan pada tahun 1546.

Gugurnya Sultan Trenggana menimbulkan pertikaian baru di antara kerabat kerajaan, terutama antara adik Trenggana dan anak Trenggana. Adik Sultan Trenggana akhirnya terbunuh di tepi sungai sehingga ia terkenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Anak Sultan Trenggana, yakni Pangeran Prawoto dibunuh oleh anak Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang bernama Arya-Penangsang. Hal ini dilakukan sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Arya Penangsang (1546-1568) kemudian tampil menjadi Sultan Demak yang ke-4.

Masa pemerintahan Arya Penangsang dipenuhi berbagai kekacauan dan pembunuhan. Banyak orang yang tidak suka kepada Arya Penangsang. Ia terkenal kejam. Adipati Jepara, Pangeran Hadiri dibunuh karena dianggap merintangi kekuasaanya. Tindakan ini menyulut kemarahan para adipati. Istri Pangeran Hadiri yang bernama Ratu Kali Nyamat segera mengangkat senjata untuk membalas kematian suaminya.

Beberapa adipati yang sepaham dengannya diajak pula untuk menghancurkan kekuasaan Arya Penangsang. Seorang di antaranya adalah Adipati Pajang, Adiwijaya yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Ia berhasil membinasakan Arya Penangsang pada tahun 1568 sehingga mahkota dan kebesaran Demak berpindah ke tangannya.

Foto Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak, peninggalan sejarah yang dibangun para wali

Lebih jauh tentang kerajaan ini, silahkan baca: Sejarah Raja yang Memerintah dan Keruntuhan Demak

3. Kerajaan Pajang (1568-1586)

Pendiri Kerajaan Pajang ialah Adiwijaya. Ia menduduki takhta Pajang dengan memindahkan bekas Kerajaan Demak. Demak sendiri hanya dijadikan sebagai daerah kadipaten yang dipimpin seorang adipati. Sultan Adiwijaya menunjuk putera Pangeran Prawata, yaitu Arya Pangiri sebagai Adipati Demak. Sebagai penguasa Pajang, Adiwijaya mendapat pengakuan dari Sunan Giri dan para adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada tahun 1582 Sultan Adiwijaya meninggal dunia. Seharusnya Pangeran Benawa yang berhak menduduki takhta Pajang. Akan tetapi, ia disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa sendiri hanya dijadikan sebagai Adipati Jipang. Arya Pangiri banyak melakukan tindakan yang meresahkan rakyat. Ia memberikan sepertiga dari sawah-sawah rakyat kepada para pengikutnya yang berasal dari Demak.

Tindakan Arya Pangiri memunculkan upaya-upaya perlawanan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pangeran Benawa untuk segera menghimpunnya. Bagi Pangeran Benawa, hal ini merupakan kesempatan emas untuk merebut kembali takhta Pajang. Ia segera menjalin kerja sama dengan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya. Arya Pangiri diserang dari dua jurusan.

Namun, dalam menghadapi serangan ini Arya Pangiri tidak memiliki banyak tentara. Rupanya, para pengikutnya hanya terdiri atas masyarakat Demak. Oleh karena itu, Arya Pangiri dapat dikalahkan dengan mudah oleh persekutuan Sutawijaya dan Pangeran Benawa pada tahun 1586. Setelah dijatuhkan kedudukannya, Arya Pangiri tidak dibunuh. Ia disuruh kembali ke Demak.

Membebaskan orang yang sudah tidak berdaya dalam sebuah peperangan dengan tidak membunuhnya merupakan salah satu sikap seorang ksatria.

Setelah Arya Pangiri ditumbangkan, Pangeran Benawa yang sebenarnya berhak atas takhta Pajang justru menyerahkan tampuk kekuasaan Pajang kepada Sutawijaya, Pangeran Benawa merasa tidak cukup cakap untuk memimpin Kerajaan Pajang yang begitu luas. Sutawijaya menerima tawaran sahabatnya itu. Segeralah segala tanda kebesaran Pajang dipindahkan ke Mataram sehingga berakhirlah kekuasaan Pajang.

4. Kerajaan Mataram

Kemunculan wilayah Mataram tidak lepas dari peranan Ki Ageng Pamanahan. Hal ini dikarenakan ia telah amat berjasa dalam membantu Adiwijaya menaklukkan Arya Penangsang. Daerah Mataram sendiri merupakan bukti kesetiaan Pamanahan terhadap Adiwijaya. Di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan, Mataram menjadi daerah yang maju. Namun, belum sempat menikmati hasil kemajuannya, ia meninggal dunia Pada tahun 1575. Usaha memajukan Mataram kemudian dilanjutkan puteranya, Sutawijaya.

Sutawijaya diangkat oleh Sultan Adiwijaya menjadi Adipati Mataram pada tahun 1575. Ia diberi gelar Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama yang bermakna panglima perang dan pembela agama. Sutawijaya tidak begitu puas dengan kedudukan sebagai adipati. Ia berharap suatu saat bisa menjadikan wilayah Mataram sebagai kerajaan tersendiri, terpisah dari Kerajaan Pajang. Harapan ini berhasil diwujudkan setelah ia menjalin kerja sama dengan Pangeran Benawa dan berhasil menaklukkan Arya Pangiri pada tahun 1586.

Masa pemerintahan Panembahan Senapati di Kerajaan Mataram (1586-1601) dipenuhi konflik dan bentrokan. Hal ini disebabkan Senopati telah mengangkat dirinya sebagai Raja Mataram. Padahal pengangkatan dan pengesahan sebagai raja di wilayah Jawa biasanya dilakukan oleh wali. Selain itu, Senapati juga menjalankan politik ekspansi yang bertujuan menguasai seluruh wilayah di Pulau Jawa, Surabaya merupakan salah satu daerah yang paling keras menentang pengangkatan Senapati. Akibatnya, pertempuran terjadi pada tahun 1586. Pertempuran sengit ini dapat dihentikan berkat bantuan Sunan Giri. Surabaya tidak berhasil ditaklukkan meskipun akhirnya daerah ini mengakui kekuasaan Senopati.

Foto Pintu gerbang Imogiri
Pintu Gerbang menuju makam raja-raja Jawa di Imogiri

Pada tahun yang sama, Senopati menghadapi perlawanan yang hebat dari Madiun dan Ponorogo. Berkat kecakapan dan strategi yang jitu, kedua daerah tersebut dapat ditaklukkan. Senapati juga menggempur Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan pada tahun 1587. Perlawanan Pasuruan dan Panarukan dapat dipatahkan tetapi daerah Blambangan tidak dapat dikuasai. Hal ini dikarenakan Blambangan selalu mendapat bantuan dari Kerajaan Bali. Akhirnya, tentara Mataram ditarik mundur.

Perhatian Senopati beralih ke wilayah barat. Pada tahun 1595 ia berhasil memaksa Cirebon dan Priangan sampai Sungai Citarum untuk tunduk kepada Mataram. Hanya Kerajaan Banten yang tidak mau mengakui kekuasaan Mataram. Banten tetap dapat mempertahankan diri sebagai negara yang berdaulat di Jawa bagian barat. Meskipun

demikian, ketika Senopati meninggal pada tahun 1601 hampir seluruh wilayah Pulau Jawa sudah menjadi daerah kekuasaan Mataram, bahkan termasuk Blambangan (Jawa Timur) yang sebelumnya bersikeras tidak mau tunduk kepada Mataram.

Lebih jauh mengenai kerajaan ini silahkan baca: Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam

5. Kerajaan Cirebon

Cirebon berasal dari kata caruban yang artinya campuran. Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut sumber berita tertua tentang Cirebon, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik.

Seorang yang paling terkemuka ialah Cu-cu. Keluarga Cu-cu yang sudah menganut agama Islam kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintahan Demak untuk mendirikan perkampungan di daerah barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon. Dalam perkembangannya, Cirebon selalu menjalin hubungan yang erat dengan Demak, terutama dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Foto Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan Cirebon

Kapan dan siapa pendiri Kerajaan Cirebon hingga kini masih belum jelas. Menurut Tjarita Tjaruban Kerajaan Cirebon didirikan oleh Syarif Hidayat, cucu dari Raja Pakuan Pajajaran. Ia naik takhta pada tahun 1482 sekembalinya dari Mekah. Sebagai cucu raja ia memang berhak mendapatkan kekuasaan. Daerah Cirebonlah yang diberikan kepadanya.

Namun, perkembangan Cirebon ternyata amat pesat. Adanya pemerintahan Cirebon di bawah pimpinan Syarif Hidayat telah menyurutkan Kerajaan Pajajaran yang Hindu. Namun, Kerajaan Pajajaran tidak pernah berkonfrontasi dengan Cirebon karena masih ada hubungan kekerabatan di antara keduanya.

Foto Makam Sunan Gunung Jati
Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon

Berdasarkan sumber-sumber Portugis, pendiri Kerajaan Cirebon adalah Faletehan atau Fatahillah. Sebelumnya Faletehan lebih dikenal sebagai Nurullah yang pergi ke Kerajaan Demak setelah daerahnya, yaitu Pasai dikuasai bangsa Portugis. Dengan seizin Sultan Demak, ia pergi ke Banten untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat Banten dan sekitarnya. Selain itu, ia juga berusaha untuk membangun sebuah masyarakat muslim di sana. Setelah menetap di Banten untuk beberapa waktu, ia kemudian berhasil mendirikan Kerajaan Cirebon.

Pada tahun 1570 Faletehan meninggal dunia dalam usia lanjut. Diperkirakan usianya mencapai 80 tahun. Ia dimakamkan di bukit Gunung Jati. Sepeninggal Faletehan, pengaruh agama Islam meluas ke seluruh daerah Jawa Barat.

6. Kerajaan Banten

Kerajaan Banten didirikan oleh Nurullah (Faletehan) pada tahun 1525 atas perintah dan kesepakatan dengan Sultan Demak. Nurullah adalah seorang tokoh yang saleh dan cakap dalam bidang politik hingga mampu menguasai Banten. Selain itu, ia juga dipandang mampu menghalangi Portugis yang berambisi menguasai pelabuhan-pelabuhan di Jawa Barat.

Pada tahun 1522 Portugis menandatangani perjanjian dengan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Sebelum Portugis melaksanakan niatnya, Nurullah telah merebut Sunda Kelapa dari tangan Pajajaran pada tahun 1527. Atas kemenangan ini, Sultan Trenggana memberikan gelar kepadanya, yakni Fatahillah (kemenangan di jalan Allah).

“Pada 22 Juni 1527 Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan yang sempurna. Peristiwa ini dijadikan momentum hari jadi kota Jakarta.”

Orang-orang Portugis yang tidak mengetahui Sunda Kelapa telah diduduki Banten, segera mendirikan kantor dagang di sana. Kedatangan ini segera disambut dengan gempuran oleh pemerintahan Banten. Akibatnya, Portugis terdesak dan terpaksa angkat kaki dari Sunda Kelapa. Selama Trenggana berkuasa di Demak, Banten diakui sebagai daerah bawahannya.

Fatahillah memimpin Kerajaan Banten sampai tahun 1552. Tampuk pemerintahan Kerajaan Banten kemudian diserahkan kepada puteranya yang kedua, yaitu Hasanuddin. Pada masa kekuasaan Hasanuddin, Banten dinyatakan lepas dari kekuasaan Demak.

Oleh karena itu, Hasanuddin (1552-1570) dianggap sebagai Raja Banten pertama sebab ia berani menyatakan lepas dari kekuasaan Demak. Ia kemudian berusaha meluaskan wilayahnya. Lampung dan sekitarnya dijadikan daerah incaran pertama untuk melaksanakan ambisinya.

Foto Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten

“Kerajaan Banten ramai dikunjungi pedagang dari luar karena kerajaan ini terkenal sebagai pemasar lada. Untuk memasok kebutuhan lada, Banten harus menguasai daerah produsen lada. Lampung merupakan daerah yang banyak menghasilkan lada sehingga daerah itu dikuasainya.”

Hasanuddin wafat pada tahun 1570. Ia digantikan puteranya, yaitu Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf (1570-1580). Pada tahun 1579 Maulana Yusuf menyerang Kerajaan Pajajaran. Atas bantuan penduduk Pajajaran yang telah beragama Islam, Pajajaran dapat ditaklukkan.

7. Kerajaan Makassar

Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan. Dari suku bangsa Makassar, yaitu Kerajaan Gowa dan Tallo, sedangkan dari suku bangsa Bugis, yaitu Luwu, Bone, Soppeng, Wajo, Tanette, Baru, dan lain-lain. Raja-raja dari suku bangsa Makassar bergelar Karaeng dan raja-raja dari suku bangsa Bugis bergelar Aru. (Arung).

Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan selalu berusaha saling menaklukkan. Kerajaan Luwu memulai ekspansinya ke Kerajaan Sidenreng yang berlanjut ke Kerajaan Bone. Dalam pertempuran dengan Bone, Raja Luwu, yaitu Rajadewa tidak berkutik melawan Raja Arumpone. Sejak saat itu, kedudukan Luwu tergeser oleh Bone dalam percaturan politik di Sulawesi Selatan.

Pada tahun 1605 Datok ri Bandang, Datok Sulaeman, dan Datok ri Tiro berhasil mengajak Karaeng Matoaya (Raja Gowa) dan Karaeng Pattingaloang (Raja Tallo) memeluk Islam. Karaeng Matoaya adalah raja di wilayah Sulawesi Selatan yang pertama masuk Islam. Ia kemudian diberi gelar Sultan Abdullah Awalul Islam.

Kerajaan Gowa dan Tallo bersekutu dengan nama Kerajaan Makasar untuk menyebarluaskan agama Islam ke kerajaan-kerajaan lain. Upaya kedua kerajaan ini mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan bawahan Gowa, seperti Tombolo, Lakiung, Parang-parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalo.

Upaya Kerajaan Gowa-Tallo ditentang oleh Kerajaan Bone. Pada tahun 1528 Bone membuat persekutuan bersama Kerajaan Wajo dan Soppeng dengan nama Tellumpocco (tiga kekuasaan). Persekutuan ini ternyata amat efektif untuk merintangi Gowa-Tallo.

Beberapa kali serangan Gowa-Tallo dapat digagalkan. Namun, kendati sering mengalami kegagalan, Gowa-Tallo tidak pernah mundur. Semula Tellumpocco masih dapat bertahan, tetapi lama kelamaan satu persatu mereka dapat ditaklukkan. Soppeng tunduk tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan Bone tahun 1611.

“Kegagaian seringkali diungkapkan sebagai keberhasilan yang tertunda. OIeh karena itu, kata putus asa tidak pernah ada dalam kamus orang-orang yang bijak. Coba dan coba lagi selalu menjadi pedoman yang akan mengantar seseorang menuju keberhasilan.”

Setelah mengalahkan Tellumpocco, Kerajaan Makasar memperoleh kemajuan yang pesat, terutama di bidang perdagangan.Kemajuan bidang perdagangan tersebut disebabkan hal berikut.

  1. Banyak pedagang yang hijrah ke Makasar setelah wilayah itu jatuh ke tangan bangsa. Portugis tahun 1511.
  2. Orang-orang Makasar dan Bugis terkenal sebagai pelaut ulung yang dapat mengamankan wilayah lautnya.
  3. Tersedianya rempah-rempah yang banyak didatangkan dari Maluku.

Kerajaan Makasar menjadikan Sambaopu sebagai ibukotanya. Kota ini memiliki letak yang strategis di jalur lalu lintas laut Malaka-Maluku. Untuk menjamin dan mengatur perdagangan dan pelayaran di wilayahnya, Makasar mengeluarkan undang-undang dan hukum perdagangan yang disebut Ade Allopiloping Bacanna Pabalue.

Undang-undang ini dimuat dalam buku Lontara Amanna Coppa. Kejayaan Kerajaan Makasar tercapai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said (1639-1653) dan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Kedua raja ini telah membawa Makasar sebagai daerah dagang yang maju pesat. Selain itu, kekuasaan Makasar telah mencapai Pulau Solor di Nusa Tenggara.

8. Kerajaan Ternate dan Tidore

Daerah Maluku sejak dulu terkenal sebagai penghasil rempah-rempah, terutama cengkih dan lada. Daerah-daerah tersebut antara lain, Ternate, Tidore, Motir, Makean, Bacan, Halmahera, dan Banda.

Gambar Sultan Mudaffar Syah II
Sultan Mudaffar Syah II, Sultan Ternate ke-48 (1975-2015).

“Rempah-rempah umumnya diperlukan bangsa bangsa Eropa untuk obat-obatan dan bumbu masak Harga rempah-rempah cukup tinggi dan telah membuat makmur rakyat Maluku.”

Sejak zaman Kerajaan Majapahit, hubungan kerja sama ekonomi telah terjalin. Bandar-bandar sepeni Surabaya, Gresik, dan Tuban sering dikunjungi para pedagang Maluku. Sebaliknya, pedagang-pedagang dari Jawa datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan kedua belah pihak ini sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran Islam ke Maluku.

“Raja Maluku yang lebih dahulu masuk Islam ialah Raja Ternate yang bernama Marhum (1465-1486) dan Zainal Abidin (1486-1500). Kedua raja ini masuk Islam setelah tertarik dengan ajaran agama yang disampaikan oleh Sunan Giri di Jawa Timur.”

Semula di Maluku terdapat empat kerajaan Islam, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Dalam perkembangan selanjutnya, antara Ternate dan Tidore saling berebut

pengaruh dan kekuasaan terhadap daerah sekitarnya. Oleh karena itu, muncul kemudian dua buah persekutuan yang terkenal dengan sebutan Uli Lima dan Uli Siwa. Persekutuan Uli Lima dipimpin Ternate dengan anggota Ambon, Bacan, Obi, dan Seram. Persekutuan Uli Siwa dipimpin Tidore dengan anggota yang mencakup Makean, Halmahera, Kai dan pulau-pulau lain hingga ke Papua bagian barat.

Gambar Peta daerah kekuasaan Uli Lima dan Uli Siwa
Peta daerah kekuasaan Uli Lima dan Uli Siwa

Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin Sultan Baabullah, sedangkan kemajuan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku. Persaingan di antara kedua kerajaan ini dimanfaatkan bangsa asing dengan cara mengadudombakannya. Tujuannya tidak lain ingin memonopoli daerah rempah-rempah tersebut.

Lebih jauh mengenai kerajaan ini silahkan kunjungi: Sejarah Lengkap Kerajaan Ternate dan Tidore

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *