Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Terlengkap

  • Whatsapp

Sekitar abad ke-8 di Jawa Tengah Berdiri Kerajaan Mataram atau Mataram Kuno. Munculnya kerajaan ini diterangkan dalam Carita Parahyangan dan prasasti yang ditemukan di daerah Canggal, di barat daya Magelang. Prasasti Canggal berangka tahun 732 Masehi.

Dalam Carita Parahyangan diterangkan bahwa pada masa pemerintahan Raja Sana, kerajaan telah diserang oleh Kerajaan Galuh dari Jawa Barat. Raja Sana meninggal dunia dalam peristiwa itu. Saudaranya yang bernama Sanaha mengungsi bersama keluarga di lereng Gunung Merapi. Tidak lama, anak Sanaha, yaitu Sanjaya berhasil membalaskan kematian pamannya. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Mataram yang beribukota di Medang ri Poh Pitu (717 M). Dalam Prasasti Canggal disebutkan bahwa Sanjaya mendirikan lingga-yoni di Candi Gunung Wukir sebagai pertanda dari kemenangannya.

Gambar Peta daerah kekuasaan Kerajaan Mataram kuno
Peta daerah kekuasaan Kerajaan Mataram kuno

Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram diterangkan dalam dua buah prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung. Kedua prasasti tersebut adalah Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908). Nama raja-raja yang memerintah Kerajaan Mataram kuno adalah sebagai berikut.

  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717-746 M)
  2. Rakai Panangkaran Dyah Sangkara (746-784 M)
  3. Rakai Panunggalan/Panaraban (784-827 M)
  4. Rakai Warak Dyah Manara (803-827)
  5. Dyah Gula (827-828 M)
  6. Rakai Garung (828-847 M)
  7. Rakai Pikatan Dyah Saladu (847-855 M)
  8. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (855-885 M)
  9. Dyah Tagwas (885 M)
  10. Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887 M)
  11. Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887 M)
  12. Rakai Watuhumalang Dyah Jbang (894-898 M)
  13. Rakai Watukura Dyah Balitung (898-913 M)

Agama Buddha mulai berkembang pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran Dalam Prasasti Sangkhara (sekitar abad 8 M) yang ditemukan di Sragen (Jawa Tengah), tertulis bahwa Rakai Panangkaran telah berpindah dari agama Siwa ke agama Buddha. Ia mendirikan Candi Kalasan untuk menghormati Dewi Tara. Ia juga membangun Candi Sewu, Candi Plaosan Lor, dan wihara di Bukit Baka. Ia pun mendirikan biara untuk para bhiksu dan bhiksuni Buddha. Sejak saat itu, keluarga kerajaan ada yang beragama Hindu, dan ada pula yang beragama Buddha.

Agama Buddha mengalami perkembangan yang amat pesat pada masa Smaratungga, anak dari Rakai Panangkaran. Pada tahun 850 M, ia berhasil membangun Candi Borobudur untuk para penganut agama Buddha. Bangunan ini terdiri atas 10 tingkat yang melambangkan makna bahwa kesempurnaan hidup manusia akan dicapai setelah melampaui 10 tingkat itu.

“Candi Borobudur menjadi salah satu obyek wisata Indonesia yang potensial. Keunikan dari candi tersebut dapat dilihat dari relief, stupa, dan seni arsitektur tanpa menggunakan bahan semen, hanya tumpukan batu-batu besar. Sungguh menakjubkan bangunan tersebut. Oleh karena itu, Borobudur dianggap menjadi salah satu keajaiban dunia.”

Smaratungga mempunyai anak yang bernama Pramodhawardani dan Balaputeradewa. Pramodhawardani menikah dengan Rakai Pikatan yang kemudian naik takhta. Semasa Rakai Pikatan berkuasa timbullah perselisihan dengan Balaputeradewa. Balaputeradewa yang menderita kekalahan segera melarikan diri ke Sumatera. Kelak ia menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya.

Semenjak Rakai Pikatan berkuasa, Kerajaan Mataram menjadi aman dan makmur. Umat Buddha dan Hindu hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Toleransi kehidupan beragama terwujud dalam pembangunan dan pemeliharaan candi-candi secara bergotong royong. Candi-candi tersebut antara lain:

  • Candi Sewu, Candi Pawon, dan Candi Mendut (Candi Buddha di Jawa Tengah), serta.
  • Candi Gedongsongo, Candi Arjuna, dan Bima (di Pegunungan Dieng), Candi Ngawen, Candi Puntadewa, Candi Gunung Wukir, Candi Gatotkaca, Candi Srikandi, dan Candi Dwarawati.

“Kerukunan hidup antarumat beragama amat perlu dikembangkan. Saling mencela di antara sesama penganut agama sangat tidak dianjurkan. Meskipun demikian, kita harus meyakini kebenaran agama yang kita anut dan di lain pihak penghargaan terhadap agama orang lain harus tetap diberlakukan. Inilah yang menjadi bentuk dari keadilan di bidang keagamaan.”

Foto Kompleks Candi Dieng
Kompleks Candi Dieng

Kerajaan Mataram kuno mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Raja Balitung (898-910). Di masa kekuasaannya, daerah-daerah di sebelah timur Mataram berhasil ditaklukkannya. Oleh karena itu, daerah kekuasaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) sampai Malang (Jawa Timur). Sepeninggal Raja Balitung, Kerajaan Mataram kuno diperintah oleh Daksa (913-919), Tulodong (919-924), dan Wawa (924-929). 

Pada tahun 929 pusat Kerajaan Mataram kuno dipindahkan ke Watugaluh (Jawa Timur) oleh Mpu Sindok. Ia berasal dari Dinasti Isyana. Menurut para sejarawan, perpindahan pusat kerajaan itu dilakukan karena wilayah Mataram ditimpa bencana letusan gunung api. Masa pemerintahan Mpu Sindok berlangsung aman dan tenteram. Mpu Sindok seringkali memberikan bantuan bagi pembangunan tempat-tempat suci. Dalam bidang sastra muncul kitab suci agama Buddha Tantrayana, yaitu Sang Hyang Kamahayanikan.

Pengganti Mpu Sindok ialah Dharmawangsa. Demi kesejahteraan hidup rakyatnya, Dharmawangsa berupaya menguasai jalur perdagangan dan pelayaran yang saat itu dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 990 ia mengirim tentaranya ke Sumatera dan Semenanjung Malaka. Misi pasukannya berhasil menaklukkan beberapa daerah pantai di Sriwijaya. Upaya Dharmawangsa dianggap telah membawa kemajuan bagi kerajaannya.

Namun, pada tahun 1016 kekuasaan Dharmawangsa dilanda malapetaka yang mengerikan. Ketika ia sedang menikahkan puterinya dengan Airlangga (putera mahkota Kerajaan Bali), tiba-tiba istana Kerajaan diserang oleh tentara Wurawari. Hampir semua pembesar Kerajaan Mataram kuno gugur dalam kejadian itu. Peristiwa penyerbuan Raja Wurawari terhadap kekuasaan Raja Dharmawangsa ini terkenal dengan sebutan Pralaya Medang.

Pada tahun 1019 Airlangga dinobatkan menjadi raja oleh para pendeta Buddha dan para brahmana dengan gelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lakeswara Dharmawangsa Airlangga Ananta wikramotunggadewa. Pada permulaan pemerintahannya, kerajaan di guncang berbagai peperangan yang hebat.

Perang yang berkecamuk, misalnya perang menghadapi Raja Bhismaprabhawa, Raja Wengker, dan seorang ratu di daerah selatan Tulungagung. Semua peperangan ini dimenangkan pihak Airlangga. Bahkan pada tahun 1033 Airlangga berhasil membalaskan kematian mertuanya dengan mengalahkan raja Wurawari. Sejak saat itu, Airlangga mempersatukan kerajaan yang telah terpecah-pecah untuk memulai upaya pembangunan negerinya.

Foto Patung Dewa Wisnu naik Garuda
Patung Dewa Wisnu naik Garuda yang disimbolkan sebagai patung Airlangga

Pada bidang pemerintahan, Airlangga melakukan perombakan dengan mengangkat orang-orang yang berjasa kepadanya. Dalam bidang ekonomi, Airlangga memerintahkan membangun waduk di daerah Sungai Brantas. Dalam bidang sastra, muncul karya bermutu seperti kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa.

Pada bidang sosial, banyak dibangun tempat-tempat suci, pertapaan, dan asrama-asrama pendeta. Semua upaya pembangunan negeri hanya ditujukan demi kesejahteraan rakyat. Setelah wafat, rakyat membangun patung Airlangga yang mengendarai burung garuda sebagai kenang-kenangan atas jasa-jasanya.

Sepeninggal Airlangga, kerajaan dibagi menjadi dua oleh Mpu Bharada.

  1. Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan, yang wilayahnya terletak di sebelah utara Sungai Brantas.
  2. Kerajaan Panjalu dengan ibukota Daha, yang letaknya di sebelah selatan Sungai Brantas.

Baca juga:

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *