Sejarah Kerajaan Minangkabau

  • Whatsapp
Kerajaan Minangkabau sebenarnya adalah kumpulan sejumlah nagari. Nagari merupakan daerah-daerah merdeka berbentuk republik mini, yang dipersatukan oleh keturunan, adat-istiadat, dan bahasa yang sama.
Tidak diketahui dengan pasti kapan kerajaan Minangkabau berdiri. Para raja Minangkabau sendiri senang mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Nabi Adam lewat garis keturunan Iskandar Zulkarnain atau Alexander Agung. Mereka menyatakan bahwa kampung halaman mereka di Sumatra sama tuanya dengan penciptaan dunia.
Pemerintah Minangkabau yang Unik
Kerajaan Minangkabau tua terdiri atas sejumlah daerah yang berdiri sendiri, disebut nagari. Setiap nagari diperintah oleh penghulu, dengan kebebasan membuat dan menerapkan hukumnya masing-masing.
Nagara-nagari itu tidak memiliki hubungan satu sama lain, tetapi dipersatukan secara tradisional oleh Rajo Minangkabau yang berkedudukan di Istana Pagaruyung.
Foto situs cagar budaya ustano rajo alam
Situs cagar budaya ustano rajo alam
Rajo Minangkabau bukanlah seorang penguasa tunggal, melainkan ”rajo nan tigo selo”, yaitu trio penguasa berdasarkan pembagian tugas. Raja pertama dikenal dengan sebutan Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau, yaitu penguasa resmi yang menjalankan pemerintahan.
Raja kedua adalah Rajo Adat, mengurus masalah adat dan berkedudukan di Buo. Raja ketiga adalah Rajo Ibadat, yang bertugas mengurusi masalah keagamaan dan tinggal di Sumpur Kudus. Dalam menjalankan tugasnya, mereka dibantu oleh sebuah lembaga yang disebut Basa Ampek Balai.
Foto Makam Raja Raja Pagaruyung
Makam Raja Raja Pagaruyung, yang biasa disebut disebut Ustano Rajo Alam
Tidak seperti raja lainnya di Nusantara, Rajo Minangkabau tidak menempati istana mewah dan tidak memiliki banyak pelayan. Jabatan raja hanya bersifat simbolik. Menurut adat yang berlaku, raja secara berkala berkunjung ke sejumlah daerah. Jadi raja yang mendatangi rakyat, bukan sebaliknya. Pada kesempatan ini, raja biasanya menerima sekadar ’pemberian’ dari rakyatnya. Nilai dan upacara pemberian juga harus sesuai dengan adat yang berlaku.
Foto Istana Basa Pagaruyung
Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang sekitar abad ke-16. Ajaran Islam dibawa oleh para musafir dan guru agama dari Aceh dan Malaka. Ulama pertama yang menyebarkan agama Islam di Pagaruyung adalah Syaikh Burhanuddin Ulakan. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam pertama dalam tambo adat Minangkabau bernama Sultan Alif.
Foto Batu kasur Kerajaan Pagaruyung
Minangkabau Negeri Emas
Kerajaan Minangkabau kaya akan emas, Para Rajo Minangkabau menyadari arti penting emas. Mereka mengumpulkan emas sebagai cadangan kekayaan kesultanan. Minangkabau yang kaya akan emas menjadi daya tarik bagi para pedagang untuk datang berkunjung. Kerajaan Minangkabau mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14 dan ke-15.
Daerah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Sumatra Tengah. Di dalamnya termasuk daerah antara Palembang dan Sungai Siak di bagian timur dan antara Kerajaan Manjuto dengan Sungai Singkel di pantai barat. Namun, kejayaan ini tidak berlangsung lama. Setelah abad ke-16, wilayah Jambi, Indragiri, dan Indrapura melepaskan diri dan menjadi kerajaan merdeka. Pada permulaan abad ke-17, daerah pesisir yang terpenting sudah dikuasai orang Aceh.
Pengaruh Minangkabau kembali meningkat setelah Aceh dikalahkan oleh VOC pada tahun 1667. Sejak saat itu, hubungan antara daerah rantau dan pesisir dengan pusat pemerintahan Pagaruyung menjadi erat kembali. Pagaruyung sendiri kembali berperan sebagai pusat perdagangan di Pulau Sumatra, terutama sebagai pemasok emas dan lada.
Adat dan Agama Suku Minangkabau
Penduduk Minangkabau mulai memeluk agama Islam pada pertengahan abad ke-16. Adat lama dan syariat Islam dapat hidup berdampingan dengan damai. Keduanya mendapat tempat dalam masyarakat sehingga muncul pepatah ”Adat basandi Syara, Syara basandi Adat”.
Persoalan muncul ketika pemerintahan adat yang dipegang raja, bangsawan, dan penghulu tidak dapat mengatasi perilaku tradisional yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti kebiasaan menyabung ayam, berjudi, dan menenggak minuman keras.
Bahkan, beberapa petinggi ikut menjalankan kebiasaan buruk tersebut. Akibatnya, timbul perselisihan dengan golongan agama yang lebih konservatif. Perselisihan ini akhirnya menjadi pemicu pecahnya Perang Padri di kemudian hari. Akibat Perang Padri itu, Belanda menghapus Kerajaan Pagaruyung.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Melayu

Makanan Khas Minangkabau yang terkenal

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *