Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam

  • Whatsapp
Letak Georafis Mataram Islam
Di Jawa Tengah pernah ada dua kerajaan yang namanya sama tetapi memiliki pengaruh dan kekuasaan yang berbeda, yaitu Kerajaan Mataram Kuno (Lama/ Hindu) yang mendapat pengaruh Hindu-Budha dan kekuasaannya berlangsung antara abad ke 8-10 M, dan Kerajaan Mataram Islam (Baru/ Islam) yang mendapat pengaruh Islam dan kekuasaannya berlangsung dari dari abad 16-20 M. 
Pada awal perkembangannya, Mataram Islam adalah sebuah daerah Kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Pajang. Letak Mataram yaitu di daerah Jawa Tengah bagian selatan dan pusatnya Kotagede, daerah Yogyakarta sekarang. Dari daerah itulah Mataram terus berkembang hingga menjadi sebuah kerajaan besar yang wilayahnya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.
Sultan Agung Hanyokrokusumo Kerajaan Mataram Islam

Raja-Raja yang Memerintah Mataram

Setelah Demak runtuh, pusat pemerintahannya di pindahkan ke Pajang oleh Ki Jaka Tingkir (Hadiwijaya), menantu Sultan Trenggana. Sultan Hadiwijaya selanjutnya mendirikan Kerajaan Pajang, namun usia kerajaan tidak lama, yaitu selama masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (tahun 1568-1586). Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal, tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Benowo. Akan tetapi Pangeran Benowo tidak dapat mengatasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para Bupati pesisir. Akhirnya ia menyerahkan tahta kerajaan kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Mataram. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mataram.
  • Panembahan Senapati 
Setelah Sutawijaya meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Mataram, selanjutnya ia bergelar Panembahan Senapati ing Alogo Sayidin Panatagama (kepala bala tentara dan pengatur agama). Setelah berhasil membentuk Kerajaan Mataram, Sutawijaya membentuk perluasan wilayah kerajaan dan menduduki daerah-daerah pesisir pantai seperti Surabaya. Adipati Surabaya menjalin persekutuan dengan Madiun Dan Ponorogo dalam menghadapi Mataram. Ponorogo berhasil dikuasai Mataram, menyusul Madiun dikuasainya. Selanjutnya Pasuruan dan Kediri berhasil direbut. Adipati Surabaya berhasil dikalahkannya. Dengan demikian seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur berhasil dikuasai Mataram. Panembahan Senapati memerintah dari tahun 1586 sampai tahun 1601. Setelah wafat ia digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang.
  • Mas Jolang
Mas Jolang memerintah Mataram dari tahun 1601 sampai 1613. Di bawah pemerintahannya, Mataram diperluas lagi dengan mengadakan pendudukan terhadap daerah sekitarnya. Pada tahun 1612, Mas Jolang berhasil menghancurkan Gresik Jaratan. Akan tetapi, berjangkit penyakit menular maka pasukan Mataram yang langsung dipimpinnya diperintahkan kembali. Pada tahun 1613, Mas Jolang wafat di desa Krapyak dan dimakamkan di Pasar Gede. Mas Jolang akhirnya dikenal dengan sebutan Panembahan Seda ing Krapyak.
  • Sultan Agung Hanyokrokusumo
Pengganti Mas Jolang adalah Raden Mas Martapura. Namun demikian, karena sakit-sakitan akhirnya ia turun tahta. Ia digantikan oleh Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ia adalah Raja Mataram pertama yang bergelar Sultan. Sultan Agung memerintah Matarama dari tahun 1613 sampai 1645. Dibawah pemerintahannya, Mataram mencapai masa kejayaannya. Sultan Agung selain menjadi raja besar juga tertarik akan filsafat, kesusastraan serta seni. Ia juga menulis buku filsafat dengan judul Sastra Gendhing.
Cita-cita Sultan Agung adalah menyatukan seluruh wilayah Pulau Jawa dan mengusir orang-orang belanda di Batavia. Serangan ke Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629. Dua kali serangan yang dilakukan mengalami kegagalan. Kegagalan itu mengakibatkan Sultan Agung memerintahkan untuk memperketat penjagaan di daerah perbatasan dengan Batavia. Dengan demikian dibawah pemerintahan Sultan Agung Belanda kesulitan untuk menembus Mataram. Apalagi Sultan Agung adalah orang yang sangat anti Belanda.
Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat, tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat I.
  • Sunan Amangkurat I
Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I (tahun 11645-1677), orang-orang Belanda mulai masuk ke Mataram. Bahkan Sunan Amangkurat I menjalin hubungan yang erat dengan  Belanda. Belanda mendapat ijin untuk mendirikan benteng-benteng di Mataram. Setelah berhasil mendirikan benteng-benteng, ternyata tindakan belanda mulai sewenang-wenang. Kesewenag-wenangan Belanda itu menimbulkan rasa tidak senang dikalangan rakyat Mataram. Hal itu juga yang menyebabkan munculnya pemberontakan seperti yang dilakukan Pangeran Trunojoyo dari Madura. Pangeran Trunojoyo berhasil menjalin hubungan dengan para bupati di daerah pesisir pantai. Bahkan ibukota kerajaan Mataram hampir dapat dikuasai oleh Trunojoyo. Namun karena perlengkapan persenjataan Trunojoyo jauh dibawah Belanda pemberontakan itu berhasil dapat dipadamkan. Ketika terjadi pertempuran di pusat kota Kerajaan Mataram, Amangkurat I dalam keadaan luka parah. Ia berusaha melarikan diri dengan dibantu oleh putranya. Akan tetapi, dalam perjalanannya yaitu di Tegalwangi, Amangkurat I wafat.
  • Sunan Amangkurat II
Sunan Amangkurat II memerintah Mataram dari tahun 1677 sampai 1703. Dibawah kekuasaannya wilayah kekuasaan Mataram semakin bertambah sempit. Sebagian wilayah kekuasaanya diambil alih oleh Belanda. Amangkurat II tidak tertarik untuk tinggal di Ibukota kerajaan. Ia selanjutnya mendirikan ibukota baru di daerah Wonokerto yang kemudian diberi nama Kartasura. Dari daerah itulah Amangkurat II menjalankan pemerintahan atas sisa-sisa kerajaan Mataram.
Setelah Amangkurat II wafat tahun 1703, kondisi Mataram semakin bertambah suram. Pada tahun 1755 melalui perjanjian Giyanti, Mataram dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan, yaitu sebagai berikut.
  1. Daerah kesultanan Yogyakarta. Daerah itu lebih dikenal dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Mangkubumi sebagai rajanya dan bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.
  2. Daerah Kasuhunan Surakarta yang diperintah Susuhunan Pakubuwono III.
Meskipun demikian, ternyata belanda merasa belum puas untuk memecah belah wilayah kekuasaan Mataram. Ketika terjadi perlawanan yang dilakukan oleh Mas Said, Belanda mengadakan perjanjian Salatiga (tahun 1757). Mas Said dinobatkan menjadi raja dengan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara, dengan daerah kekuasaannya disebut daerah Mangkunegaran. Namun pada tahun 1813, sebagian daerah dari kesultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati. Dengan demikian, Kerajaan Mataram yang kuat dan kukuh pada masa pemerintahan Sultan Agung, akhirnya terbagi menjadi kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Yogyakarta, Kerajaan Surakarta, Kerajaan Mangkunegaran, dan Kerajaan Pakualaman.
Kehidupan Ekonomi Masyarakat Mataram
Mataram yang letaknya jauh dipedalaman Jawa Tengan adalah sebuah negara agraris, yaitu negara yang mengutamakan pertanian sebagai sumber kehidupan. Pada masa pemerintahan Sultan Agung terjadi perselisihan antar pedagang Belanda di Jepara. Hal itu mengakibatkan Sultan Agung melakukan perlawanan ke pusat perdagangan Belanda di Batavia dan ingin mengusir Belanda dari Batavia. Untuk menghadapi Belanda, Mataram menjalin hubungan dengan Portugis yang ingin memenuhi kebutuhan berasnya dari Mataram. Portugis berjanji akan melakukan serangan terhadap Belanda dari laut. Akan tetapi, janji itu tidak pernah dipenuhinya.
Perlawanan Mataram terhapap Belanda di Batavia mengalami kegagalan. Akhirnya dilakukan perlawanan melalui bidang Ekonomi dengan memblokade seluruh keperluan Batavia dengan melarang pengiriman barang-barang dagang ke kota tersebut. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, kehidupan ekonomi masyarakat Mataram berkembang sangat pesat dengan didukung dengan hasil bumi yang melimpah.
Kehidupan Sosial Masyarakat Mataram
Pada Masa pemerintahan Sultan Agung dilakukan usaha untuk memperluas area persawahan dan memindahkan banyak petaninya ke daerah Karawang yang sangat subur. Atas dasar kehidupan agraris itulah, disusun masyarakat yang bersifat feodal. Para pejabat memperoleh tanah garapan atau pajak tanah. Sistem kehidupan seperti ini menjadi dasar utama munculnya tuan-tuan tanah di Jawa. 
Kehidupan Budaya Masyarakat Mataram
Pada zaman Mataram , aspek budaya juga mendapat perhatian khusus dari setiap raja yang berkuasa. Bahkan perkembangan kebudayaan dapat diketahui dari keberadaan kesenian tari, seni pahat, seni suara, seni sastra dan sebagainya. Salah satu bentuk kebudayaan yang muncul adalah kebudayaan kejawen sebagai akulturasi antara kebudayaan asli Hindu, Buddha, dan Islam. Upacara grebeg, yang bersumber dari pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan, merupakan tradisi zaman Majapahit. Pada waktu perayaannya dilaksanakan pada hari raya besar Islam. Dengan demikian muncul perayaan Grebeg Syawalan pada hari raya Idul Fitri dan Grebeg Maulud pada Rabiā€™ul Awwal.
Disamping itu kesusastraan jawa berkembang sangat pesat dan banyak karya sastra dihasilkan oleh pujangga keraton seperti Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata. Ketiga kitab itu berisi ajaran tabiat baik yang bersumber pada kitab Ramayana dan banyak dibaca oleh masyarakat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *