Sejarah lengkap Kerajaan Medang Kamulan

  • Whatsapp
Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno memberi kesempatan kepada pejabat istana, Mpu Sindok, untuk menggantikan raja. Mpu Sindok mendirikan Kerajaan Medang Kamulan dan membentuk Dinasti Isyana.
Pendiri Kerajaan Medang Kamulan adalah Mpu Sindok. Ia sebelumnya merupakan pejabat istana Mataram Kuno yang kemudian menggantikan Rakai Wawa sebagai penguasa kerajaan. Namun, Mpu Sindok memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah muara Sungai Brantas di Jawa Timur. Pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur diperkirakan karena bencana alam telah merusak pusat kerajaan lama, dan untuk menghindari serangan Sriwijaya. Di tempat baru, Mpu Sindok membentuk dinasti bernama Isyana dan mendirikan Kerajaan Medang Kamulan.

Letak Geografis Kerajaan Medang Kamulan

Melalui penemuan beberapa prasasti, dapat diketahui bahwa Medang Kamulan berada di daerah Jawa Timur (muara sungai brantas). Ibukota kerajaan bernama Watan Mas. Wilayah kekuasaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Mpu Sindok meliputi wilayah Nganjuk sebelah barat, Pasuruan sebelah timur, Surabaya sebelah utara, dan Malang sebelah selatan. Medang Kamulan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Jawa Timur dengan daerah pengaruhnya mencakup daerah Indonesia Timur.

Sumber Sejarah Medang Kamulan

Sumber berita tentang Medang Kamulan berasal dari berita asing dan prasasti, diantaranya sebagai berikut.
1. Berita Asing
Berita asing tentang keberadaan Medang Kamulan yang berada di daerah Jawa Timur diketahui melalui berita Cina dan India. Berita India menyatakan bahwa Sriwijaya menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di India untuk membendung serangan dari Medang Kamulan pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Berita cina ditulis dari catatan pada zaman dinasti Sung. Catatan Cina itu menyatakan bahwa kerajaan yang berada di jawa dengan Sriwijaya sedang terjadi permusuhan dan pertikaian. Dengan demikian, ketika duta Sriwijaya pulang dari Cina terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan berakhir. Pada tahun 992, pasukan dari Jawa Tengan meninggalkan Sriwijaya.

Sejarah lengkap Kerajaan Medang Kamulan

2. Prasasti Mpu Sindok

Prasasti itu ditemukan di desa Tengeran, Jombang berangka Tahun 933. Prasasti itu menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintah bersama permaisurinya yang bernama Sri Wardhani Pu Khbin.
3. Prasasti Mpu Sindok dari daerah Bangil
Prasasti itu menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintahkan pembuatan sebuah candi sebagai tempat pemakan ayah permaisurinya yang bernama Rakryan Bawang.
4. Prasasti Mpu Sindok dari Lor (dekat Nganjuk)
Prasasti yang berangka tahun 939, itu menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintahkan pembuatan candi yang bernama Jayamrata an Jayastambho (tugu kemenangan) di Desa Anyok Lodang.
5. Prasasti Calcuta
Prasasti Calcuta merupakan prasasti dari Raja Airlangga yang menyatakan tentang silsilah keturunan Raja Mpu Sindok.

Raja-Raja yang pernah Memerintah Kerajaan Medang Kamulan

Sejak berdirinya kerajaan Medang Kamulan, terdapat beberapa Raja yang diketahui pernah memerintah. Raja-raja itu diantaranya adalah.
1. Mpu Sindok
Mpu Sindok masih termasuk keturunan Dinasti Sanjaya (Mataram kuno) di Jawa Tengah. Karena Mataram tidak memungkinkan untuk mempertahankan dinasti Sanjaya akibat desakan Sriwijaya dari arah barat, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Bahkan dalam prasasti terakhir Mpu Sindok (tahun 947) menyatakan, Raja Mpu Sindok adalah peletak dasar berdirinya kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur.
Mpu Sindok memerintah Medang Kamulan sejak tahun 929 hingga 947. Selama pemerintahannya, Mpu Sindok membangun berbagai bendungan untuk pengairan. Ia melarang rakyatnya mengambil ikan di bendungan pada siang hari. Larangan ini berkaitan erat dengan upaya pelestarian. Mpu Sindok yang beragama Hindu terus memelihara toleransi beragama yang diterapkan pendahulunya. Ini tercermin pada perintahnya untuk menyusun kitab suci Buddha Tantrayana, berjudul Sanghyang Kamhayanikan.
Mpu Sindok kemudian digantikan oleh Sri Isyanatunggawijaya dan Makutawangsawardana. Salah seorang Cicitnya yang bernama Gunapriya Dharmapatni menikah dengan seorang pangeran Bali bernama Udayana. Dari pernikahan itu lahirlah Airlangga.

Mpu Sindok juga mendirikan dinasti yang diberi nama dinasti Isyana. Nama Dinasti itu diambil dari gelar Mpu Sindok, yaitu Mpu Sindok Sriisyanatungga Dewa. Namun, setelah Mpu Sindok turun tahta, keadaan di Jawa Timur dapat dikatakan suram dan gelap. Hal ini terjadi karena tidak ditemukan prasasti yang menceritakan kondisi Jawa Timur. Baru setelah raja Airlangga naik tahta muncul Prasasti-prasasti yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk mengetahui keberadaan Medang Kamulan di Jawa Timur.

2. Dharmawangsa
Pengganti Makutawangsawardana adalah Dharmawangsa, yang memerintah pada tahun 991-1016. Dharmawangsa dikenal sebagai seorang raja yang memiliki pandangan politik yang tajam. Semua politiknya ditujukan untuk mengangkat derajat  kerajaannya. Kebesaran Dharmawangsa terlihat jelas pada politik luar negerinya. Dharmawangsa percaya bahwa kedudukan ekonomi Sriwijaya yang kuat akan dapat mengancam kedudukan kekuasaannya di Jawa Timur. Oleh karena itu, Dharmawangsa mengerahkan seluruh armada lautnya untuk menguasai dan menduduki Sriwijaya.

Dharmawangsa berambisi mengembangkan kekuasaan dan perekonomian kerajaan dengan cara menguasai jalur perdagangan laut di Selat Malaka. Ambisinya ini ditentang oleh Sriwijaya. Oleh karena itu, pada tahun 1003, Dharmawangsa mengirim ekspedisi militer ke Sriwijaya untuk merebut pusat perdagangan dari kerajaan tersebut. Beberapa tahun kemudian Sriwijaya bangkit kembali dan melakukan pembalasan terhadap Medang Kamulan yang masih diperintah oleh Dharmawangsa. Dalam upaya menundukkan Medang Kamulan, Sriwijaya menjalin hubungan dengan kerajaan bawahan Medang Kamulan, yaitu kerajaan Wurawari. Pada tahun 1016, pasukan Wurawari menyerang istana Dharmawangsa ketika ia sedang menikahkan putrinya dengan putra Raja Bali yang bernama Airlangga. Dalam peristiwa ini, Raja Dharmawangsa terbunuh sementara menantunya berhasil melarikan diri diikuti pengikutnya yang  setia bernama Narottama.

3. Airlangga
Dalam prasasti Calcuta  disebutkan bahwa Airlangga masih termasuk keturunan Mpu Sindok dari pihak ibunya. Ibunya bernama Mahendradata (Gunapria Dharmapatni) yang menikah dengan raja Udayana dari Bali. Setelah usia 16 Airlangga dinikahkan dengan putri Dharmawangsa. Pada saat upacara pernikahannya itulah terjadi serangan dari Wurawari yang mengakibatkan hancurnya Medang kamulan.
Airlangga berhasil menyelamatkan diri bersama Narottama ke dalam hutan dilereng gunung (wanagiri). Ditengah hutan itu, Airlangga hidup sebagai seorang pertapa dengan menanggalkan pakaian kebesarannya. Hal itu dilakukan agar penyamarannya tidak diketahui oleh musuh. Selama tiga tahun (1016-1019), Airlangga digembleng lahir maupun batin di hutan lereng gunung (Wanagiri). Setelah itu ia turun dari lereng gunung dan bersatu dengan rakyatnya. Atas tuntutan dari rakyatnya, pada tahun 1019, Airlangga bersedia dinobatkan menjadi raja meneruskan tradisi Dinasti Isyana. Airlangga lalu bergelar Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Teguh Ananta Wikramatunggadewa.

Antara tahun 1019, Airlangga berusaha mempersiapkan diri agar dapat menghadapi lawan-lawan kerajaannya. Dengan persiapan yang cukup antara tahun 1028-1035, Airlangga berjuang untuk mempertahankan kewibawaan kerajaannya. Airlangga menghadapi karajaan yang cukup kuat seperti Wurawari, Kerajaan Wengker dan raja putri dari selatan yang bernama Rangda Indirah. Ditulis dalam cerita yang berjudul Calon Arang.

Airlangga kemudian berperang untuk merebut kembali wilayah Medang Kamulan. Pada tahun 1092, Airlangga berhasil mengalahkan Raja Wishnupraba dari Wengker. Setahun kemudian, ia menaklukkan Raja Wengker. Akhirnya pada tahun 1032, Airlangga berhasil mengalahkan Raja Wurawuri dan menguasai kembali seluruh wilayah Medang Kamulan.
Setelah berhasil mengambil-alih kekuasaan, Airlangga memindahkan pusat pemerintahan dari Waton Mas ke Kahuripan. Selama berkuasa, Airlangga mulai membangun kerajaannya disegala bidang kehidupan. Hal itu dimaksudkan untuk memakmurkan rakyatnya, seperti bidang pertanian dan irigasi, perdagangan, pengangkutan, kesenian dan agama. Untuk menarik kedatangan para pedagang asing, ia membangun Pelabuhan Ujung Galuh di muara Sungai Brantas dan memberikan hak-hak istimewa kepada Tuban. Ia membangun tanggul di Waringin Sapta untuk mengairi sawah penduduk yang hancur akibat banjir.
Melalui pembangunan yang dilaksanakan Airlangga dalam waktu singkat Medang Kamulan berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Airlangga juga mendorong perkembangan kesenian di kerajaannya. Pada tahun 1030, seorang pujangga bernama Mpu Kanwa menulis kitab Arjunawiwaha, yang sebenarnya berisi kisah pengembaraan Airlangga selama di hutan. Selain itu, kesenian wayang pun mulai berkembang.

Runtuhnya Kerajaan Medang Kamulan

Ketika berusia sekitar 50 tahun, Airlangga memutuskan untuk menjadi pertapa. Pada akhir pemerintahannya ini, Airlangga sulit menentukan penggantinya. Ini terjadi karena putri mahkota, Wijayatunggadewi, menolak naik takhta. Anak Airlangga dengan seorang putri Dharmawangsa ini memilih mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pertapa. Akibat keputusan Wijayatunggadewi itu, Airlangga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada salah satu dari dua orang anaknya yang lahir dari selir. Keadaan ini memicu persaingan di antara keduanya untuk merebutkan takhta. Akhirnya, dengan bantuan Mpu Bharada, Airlangga membagi dua kerajaan menjadi Janggala dan Panjalu (Kediri). Janggala diberikan kepada Garasakan dan Panjalu diberikan kepada Samarawijaya. Dengan pembagian itu, maka berakhirlah Kerajaan Medang Kamulan.

Perkembangan Sosial Kerajaan Medang Kamulan

Kehidupan sosial kerajaan Medang Kamulan sudah teratur. Dalam kehidupan Sosial, masyarakatnya dibedakan dalam pembagian kasta (dalam masyarakat Hindu). Disamping itu juga berdasarkan kedudukan seseorang di dalam masyarakat, baik kedudukan didalam struktur birokrasi maupun kekayaan material.

Perkembangan Politik Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sindok di daerah Jawa Timur. Pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa, langkah-langkah politik yang ditempuh adalah bertujuan untuk mengangkat derajat kerajaan. Namun Demikaian, diakhir kekuasaannya kerajaan Medang Kamulan mengalami kehancuran akibat serangan dari kerajaan Wurawari. Baru pada masa pemerintahan Raja Airlangga, kerajaan Medang Kamulan berhasil dipulihkan kembali.

Perkembangan Ekonomi Masyarakat Medang Kamulan

Perkembangan perekonomian Medang Kamulan cukup pesat karena aktifitas perekonomian yang dilakukannya melalui sungai brantas dan bengawan solo. Ketika Medang Kamulan diperintah oleh Dharmawangsa, perekonomian semakin berkembang pesat. Bahkan aktifitas perekonomian rakyatnya mencapai wilayah Indonesia Timur. Dharmawangsa ingin menundukkan Sriwijaya dengan tujuan ingin menguasai Selat Malakan sebagai jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Setelah berhasil menguasai Sriwijaya, tidak lama kemudian Medang Kamulan mendapat serangan dari Wurawari (sekutu Sriwijaya). Ketika Airlangga menjadi raja di Medang Kamulan, ia berhasil mengembalikan perekonomian agraris untuk mencapai perekonomian maritim.

Peninggalan Budaya Kerajaan Medang Kamulan

Hasil-hasil budaya dari kerajaan Medang Kamulan tidak begitu banyak yang berhasil diketahui. Hanya ada beberapa yang berhasil diketahui, yaitu berupa prasasti atau bangunan tugu kemenangan yang dibangun atas perintah Raja Mpu Sindok. Tugu itu yang diberi nama Jayamrata an jayamstambho di desa Anyok Lodang (Jawa Timur).
Baca juga :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *