Tenaga Endogen pembentuk Muka Bumi

  • Whatsapp
tenaga endogen pembentuk bumi

Tenaga endogen adalah tenaga yang bekerja pada kulit bumi (litosfer) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga tersebut yang meghasilkan terjadinya proses alam endogen. Tenaga endogen meliputi tektonisme, vulkanisme, dan seisme yang umumnya bersifat membangun permukaan bumi. 
A. Tektonisme adalah proses alam yang berkaitan dengan gerakan atau pergeseran litosfer yang mendapatkan tekanan kuat. Biasanya akan membentuk lipatan atau patahan. Proses alam ini memakan waktu lama dan berlangsung sangat lambat sehingga sangat sulit untuk diamati. Kita hanya dapat melihat gejala-gejala yang diakibatkannya. 
Berdasarkan kecepatan gerak dan luas daerah , tektonisme dibedakan menjadi :
  1. Epinogenesa adalah gerakan lapisan kulit bumi secara horizontal maupun vertikal akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat lambat serta meliputi wilayah yang sangat luas. Gerakan epirogenesa dibagi menjadi dua sebagai berikut:
  • Epirogenesa positif, yaitu gerak turunnya permukaan bumi sehingga laut seolah-olah mengalami kenaikan.
  • Epirogenesa negatif, gerak naiknya permukaan bumi sehingga laut seolah-olah mengalami penurunan.
  • Orogenesa adalah gerakan pada lapisan kulit bumi secara horizontal maupun vertikal akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Misalnya, pembentukan deretan pasifik.
  • Berdasarkan bentuknya, proses tektonisme dibedakan atas patahan dan lipatan.
    1. Lipatan, terjadi akibat tenaga endogen yang mendatar dan bersifat liat (plastis) sehingga permukaan bumi mengalami pengerutan. Bagian yang terlipat ke atas dinamakan punggung lipatan (antiklinal), sedangkan yang melipat ke bawah disebut lembah lipatan (siklinal). Jenis-jenis lipatan sebagai berikut.
    • Lipatan tegak (symmetrical folds), terjadi karena pengaruh tenaga horizontal sama atau tenaga radial sama dengan tenaga tangensial.
    • Lipatan miring (asymmetrical folds), terjadi karena arak tenaga horizontal tidak sama.
    • Lipatan menutup (recumbent folds), terjadi karena tenaga tangensial saja yang bekerja.
    • Lipatan rebah (overturned folds), terjadi karena arah tenaga horizontal dari satu arah.
    • Sesar sungkup (overthrust), terjadi karena adanya pergerakan pada sepanjang kerak bumi.
  • Patahan, terjadi akibat tenaga endogen yang relatif cepat, baik secara vertikal maupun horizontal. Jenis-jenis patahan sebagai berikut:
    • Tanah naik (horst), yaitu dataran yang terletak lebih tinggi dari daerah sekelilingnya, akibat dataran disekelilingnya patah. Horst terjadi akibat gerakan tektogenesa horizontal memusat, yaitu gerakan dari dua arah atau lebih yang menyebabkan kerak bumi terdorong naik.
    • Tanah turun (graben/ slenk), yaitu kenampaka dataran yang letaknya lebih rendah dari daerah di sekelilingnya, akibat dataran disekelilingnya patah. Graben terjadi karena tarikan dari dua arah yang menyebabkan kerak bumi turun.
    • Sesar, yaitu patahan yang diakibatkan oleh gerak horizontal yang tidak frontal dan hanya sebagian saja yang bergeser. Sesar ini dibagi menjadi dua, yaitu Dekstral (jika kita berdiri di depan potongan sesar didepan kita bergeser ke kanan), dan Sinistar dekstar (jika kita berdiri didepan potongan sesar didepan kita bergeser ke kiri).
    • Blok mountain, yaitu kupulan pegunungan yang terdiri atas beberapa patahan. Blok mountain terjadi akibat tenaga endogen yang berbentuk retakan-retakan di suatu daerah, ada yang naik dan ada yang turun dan ada pula yang berbentuk miring sehingga terbentuk komplek pegunungan patahan yang terdiri atas balok-balok lithosfera. 
    Bentuk muka bumi dari patahan dan lipatan diantaranya sebagai berikut:
    1. Pegunungan, adalah kumpulan dari gunung-gunung yang membentuk permukaan bumi yang seolah-olah bergelombang dengan lembah dan lekukan diantara gunung-gunung tersebut. Contoh dua deretan pegunungan di Indonesia, yaitu
    • Sirkum pasifik, yang melalui Sulawesi, Maluku, Papua, dan Halmahera.
    • Sirkum mediterania, Busur dalam (vulkanis), yang melalui Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, kepulauan Banda dan berakhir di pulau Ambon. Busur luar (non vulkanis), yang melalui P. Simelue, P. Nias, P. Mentawai, Enggano, tenggelam di sebelah selatan P. Jawa, Sawu Roti, Timor, Kep. Leti, Sermata, Kep. Laut seram, Manipa, Baru dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
  • Dataran tinggi, adalah daerah datar yang berada pada ketinggian di atas 700 m. Dataran ini bisa terbentuk dari dataran rendah yang mengalami pengangkatan dengan bentuk datar. Contoh dataran tinggi di Indonesia antara lain. dataran tinggi Bandung, dataran tinggi Karo Sumatera Utara, dan dataran tinggi Gayo di Aceh.
  • Plato atau Plateau, bentuk permukaan bumi ini merupakan dataran tinggi dengan bagian atas relatif rata dan telah mengalami erosi. Misalnya, Plato dieng di Jawa Tengah, Plato Madi di Kalimantan.
  • Depresi, adalah bagian permukaan bumi yang mengalami penurunan. Bentuk depresi yang memanjang disebut slenk, sedangkan yang membulat disebut basin. Misalnya, depresi Jawa Tengah dan lembah Semangka.
  • Palung laut, adalah bagian luar bumi yang terdapat di dasar laut dengan kedalaman lebih dari 5.000 meter. Bentuknya memanjang dan sempit sebagai akibat dari proses penenggelaman yang terus menerus. Misalnya, palung laut Mindanau dan palung laut Kai.
  • Lubuk laut, proses pembentukan lubuk laut sama dengan palung laut, hanya berbeda bentuknya saja, yaitu yang membulat dengan kedalaman lebih dari 5.000 meter. Misalnya lubuk laut Sulu, lubuk laut Banda.
  • Punggung laut, Bentuk dari punggung laut dapat digambarkan seperti bukit di dasar laut. Sebagian dari punggung laut ada juga yang muncul ke atas permukaan laut. Misalnya punggung laut Sibolga, punggung laut Snelius.
  • Ambang laut, adalah pembatas pada dasar laut yang memisahkan dua laut dalam. Misalnya, ambang laut Sulu dan selat gilbatar.
  • Shelf, adalah bagian laut yang dalamnya kurang dari 200 meter. Misalnya, shelf laut Jawa dan laut Arafuru.
  • B. Vulkanisme adalah gejala alam yang berkaitan dengan proses keluarnya magma ke permukaan bumi melalui sebuah lubang yang disebut pipa kepundan. Peristiwa ini biasanya disertai letusan yang sangat kuat dan terlemparnya material-material padat ke udara. Orang menyebutnya gunung meletus. Material hasil letusan ini akan menumpuk pada sekitar kawah kepundan membentuk tubuh gunung api yang tingginya terkadang mencapai ribuan meter.
    Pergerakan magma sebagai ciri aktifitas magma dibedakan sebagai berikut.
    1. Intrusi magma adalah aktifitas magma di dalam lapisan litosfera, memotong atau menyisip litosfer dan tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma disebut juga plutonisme. Bentuk-bentuk intrusi magma sebagai berikut:
    • Batholit, yaitu batuan beku yang terbentuk dari dapur magma, terjadi karena penurunan suhu yang lambat.
    • Lakolit, yaitu magma yang menyusup diantara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat sehingga cembung, sedangkan atasnya rata.
    • Sill, yaitu lapisan magma tipis yang menyusup diantara lapisan batuan di atas, datar di bagian atasnya.
    • Gang, yaitu batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan batuan yang berbentuk pipih atau lempeng.
    • Apofisa, yaitu cabang dari irupsi korok (gang).
    • Diatrema, yaitu batuan yang mengisi pipa letusan.
  • Ekstrusi magma adalah aktivitas magma yang mencapai permukaan bumi. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi magma. Bahan yang dikeluarkan pada saat proses terjadi ekstrusi magma, terutama ketika terjadi letusan gunung api adalah dalam bentuk material padat yang disebut eflata/ piroklastika dan dalam bentuk cair berupa lava dan lahar, serta dalam wujud gas, seperti belerang, gas asam arang, nitrogen, dan gas uap air. Menurut bentuknya ekstrusi magma dibedakan menjadi tiga, yaitu:
    • Ekstrusi Sentral, yaitu magma keluar melalui sebuah saluran magma (pipa kawah) dan membentuk gunung-gunung dan letaknya tersendiri. Ekstrusi melahirkan tipe letusan gunung api. Misalnya gunung krakatau.
    • Ekstrusi linier, yaitu magma keluar melalui retakan atau celah-celah memanjang sehingga menyebabkan terbentuknya gunung api yang kecil-kecil disepanjang retakan tersebut. Misalnya deretan gunung api jawa barat dan jawa timur.
    • Ekstrusi areal, yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma menghancurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar ke permukaan bumi. Misalnya, Yelow Stone National Park di Amerika serikat yang luasnya 10.000 km².
    Venomena alam pasca vulkanik adalah sebagai berikut.
    1. Mata air panas (air thermal) dan air mineral, Jenis air ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku air mineral yang banyak dikonsumsi manusia, dan digunakan sebagai sumber air yang dikonsumsi dalam bentuk kemasan yang banyak dijumpai pada depot air isi ulang atau dijual bebas. Contoh mata air yang terkenal diantaranya. Air panas panas Baturaden di Purwokerto, Ciater di Bandung.
    2. Sumber gas (ekskalasi), Sumber gas ini dapat keluar dalam bentuk.
    • Solfatar, yaitu sumber gas belerang. Misalnya di kawah puncak Bromo.
    • Fumoral, sumber gas uap air. Fumoral dapat dijumpai pada gunung api yang masih aktif.
    • Mofet, yaitu sumber gas asam arang. Mofet dan belerang merupakan dua gas yang berbahaya bagi manusia dan dapat menyebabkan kematian.
  • Mata air geyser, merupakan mata air tanah yang memancar sewaktu-waktu dalam celah batuan atau bekas kantong magma akibat dorongan gas dari dalam. Fenomena ini dapat dijumpai di plato dieng Jawa Tengah.
  • C. Seisme (gempa bumi), merupakan getaran-getaran yang terjadi pada lapisan litosfera bumi karena gelombang seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa pada lapisan litosfera bagian dalam. Gepa bumi terjadi karena pergerakan lapisan-lapisan bumi. Alat untuk mencatat gelombang gempa disebut seismograf. Berdasarkan faktor penyebabnya gempa bumi dibedakan menjadi:
    1. Gempa tektonik, yaitu gempa yang mengiringi gerakan tektonik (retakan dan patahan) yang terjadi akibat tumbukan lempeng-lempeng di litosfer kulit bumi. Sebagian besar gempa yang terjadi di bumi merupakan gempa tektonik.
    2. Gempa vulkanik, yaitu gempa yang terjadi akibat aktivitas gunung berapi. Gempa ini dapat dirasakan di sekitar gunung berapi menjelang letusan, saat letusan, dan beberapa saat pasca letusan.
    3. Gempa runtuhan, yaitu gempa yang terjadi akibat runtuhan. Gempa ini terjadi di daerah yang banyak rongga-rongga di bawah tanah. Karena tidak kuat menahan atap rongga maka terjadilah runtuhan yang akhirnya mengakibatkan gempa.. Getaran yang dirasakan hanya terjadi disekitar daerah yang runtuh.
    4. Gempa buatan, yaitu gempa yang terjadi akibat ulah manusia. Contoh dari gempa jenis ini adalah gempa yang terjadi akibat peledakan bom. 

    Menurut letak terjadinya, gempa bumi dapat dibedakan menjadi.

    • Gempa episentrum, yaitu gempa yang terjadi di tepi kerak/ lempeng samudra maupun lempeng benua.
    • Gempa hiposentrum, yaitu gepa yang terjadi pada kedalaman tertentu pada lempeng samudra maupun lempeng benua.

    Berdasarkan hiposentrum (kedalaman pusat gempa), gempa bumi dibedakan sebagai berikut.

    • Gempa dangkal, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya kurang dari 60 km dibawah permukaan bumi.
    • Gempa intermediet/menengah, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya antara 60 km- 300 km dibawah permukaan bumi.
    • Gempa dalam, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya lebih dari 300 km dibawah permukaan bumi.

    Berdasarkan bentuk episentrum (jarak pusat gempa dengan permukaan bumi), gempa bumi dibedakan menjadi.

    • Gempa sentral, episentrumnya berbentuk titik.
    • Gempa linier, episentrunya berbentuk garis.

    Berdasarkan jarak episentrumnya gempa bumi dapat dibedakan sebagai berikut.

    • Gempa sangat jauh, jarak episentrumnya lebih dari 10.000 km.
    • Gempa jauh, jarak episentrumnya sekitar 10.000 km.
    • Gempa lokal, jarak episentrumnya kurang dari 10.000 km.

    Berdasarkan letak episentrumnya gempa bumi dibedakan sebagai berikut.

    • Gempa daratan, episentrumnya di daratan.
    • Gempa lautan, episentrumnya di dasar laut. Gempa seperti ini yang dapat menimbulkan sunami.

    Pergerakan tenaga endogen memiliki dampak terhadap kehidupan, baik dampak positif  maupun dampak negatif.

    • Dampak positif tenaga endogen
      • Hasil dari tenaga endogen berupa lembah dan danau dapat menjadi kawasan tangkapan air hujan (catchment area)
      • Hasil tenaga endogen terutama aktivitas vulkanisme akan menghasilkan sumber bahan tambang dan suber daya mineral.
      • Hasil dari aktifitas tenaga endogen berupa uap dapat digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga uap.
      • Terbentuknya gunung dan pegunungan  akan menghasilkan berbagai sumber alam sebagai tempat habitat berbagai jenis flora dan fauna.
      • Terbentuknya danau, gunung dan beragam bentuk alam dari aktifitas endogen akan menghasilkan daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata karena keindahannya.
    • Dampak negatif tenaga endogen
      • Lava dan lahar yang dikeluarkan oleh aktivitas vulkanik dapat merusak lahan pertanian dan pemukiman serta dapat menimbulkan korban jiwa.
      • Abu vulkanik yang dikeluarkan pada saat letusan gunung berapi dapat merusak dan mengancam aktifitas manusia.
      • Gempa bumi merupakan bencana yang dahsyat yang dapat merusak dan menimbulkan korban jiwa.
      • Tenaga endogen menghasilkan lereng-lereng yang curam sehingga tingkat erosi dan longsor tinggi dan dapat mengancam penduduk yang tinggal didaerah sekitar lereng.

    Baca juga : “Tenaga Eksogen pembentuk Muka Bumi

    Bentuk Permukaan Bumi Darat dan Laut

    Related posts

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *